Press "Enter" to skip to content

Islam Nusantara Mewarisi Tiga Jangkar 

Social Media Share

Islam Nusantara mewarisi tiga jangkar agar Indonesia tetap terjaga. Islam dan kebangsaan menjadi jangkar pertama. Persoalan kebangsaan, bagi NU sudah selesai. Kita ini bisa menjadi seorang Indonesia 100 persen sekaligus seorang muslim 100 persen.

Di lingkungan NU, tidak ada perasaan canggung belum sempurna keislamannya sebelum mendirikan negara Islam. Meskipun ada muslim Indonesia yang belum merasa 100 persen muslimnya jika Indonesia belum mendirikan Negara Islam atau sudah membuat Khilafah baru Islamnya 100 persen.

Nahdlatul Ulama tidak demikian. Sebab, para kiai NU sepenuhnya mendasarkan keputusannga pada argumentasi fiqih sehingga terlegitimasi. Jadi negara Indonesia itu negara yang syar’i.

Sementara itu, saat ini masih ada orang yang mengatakan Indonesia taghut. Menurutnya, itu orang yang ketinggalan kereta.

Bahkan, yang lebih parah, ada yang membangun narasi Islam ini mayoritas hingga 88 persen populasinya dari seluruh penduduk Indonesia, tetapi Islam terpinggirkan Islam tertindas. Padahal kalau kita lihat faktanya bahwa Islam itu sekarang sudah berada di tengah.

Dari satu sisi saja, undang-undang misalnya, tak sedikit memberikan keistimewaan bagi Muslim, seperti adanya UU perkawinan, haji, hingga perbankan syariah.

Itu narasi atau asumsi yang sengaja dibangun untuk menimbulkan permusuhan, terutama kepada negara.

Warisan jangkar kedua, menurut Rumadi, adalah penyebaran agama dengan cara yang damai. Hal itu yang membuat penduduk Muslim di Indonesia mencapai 88 persen banyaknya. Kita mewarisi tradisi agama yang penuh perdamaian.

Selain itu, budaya yang penuh kedamaian dan toleransi menjadi warisan jangkar ketiga. Rumadi menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan produk dari proses yang lama dari para ulama, kiai dan sesepuh lainnya.

Jadi kalau ada ribut-ribut tentang Islam Nusantara, biasanya orang yang belum selesai pada tiga hal tadi.” kata

Baca Juga  Mampukah Popularitas Duterte Bantu Kuasai Senat?

Kepemimpinan KH Said Aqil Siroj dalam pandangannya sebenarnya menjaga tiga hal tersebut, yakni Islam dan kebangsaan, Islam yang damai, dan Islam yang mempertahankan kultur moderat. Tiga hal ini menjadi jangkar Indonesia.

( *** Rumadi Ahmad: Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Pengurus PBNU / Dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta / Pengajar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(Foto ilustrasi: Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj ketika meneima Imam besar Masjidil Haram Syekh Sholeh bin Abdullah bin Humaid bersama rombongan mengunjungi kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jakarta Pusat)