Press "Enter" to skip to content

Kelanjutan Kasus Suap Sepak Bola: Mengapa Satgas AntiMafia Bola tak Sentuh Liga 1?

Social Media Share

Catatan : Mbah Coco

Sejak awal 2019, mBah Coco absen menulis apa pun di akun facebook ini. Kebetulan mBah Coco sedang semedi dan tirakat, agar negeri ini asyik-asyik saja, sampai ada Presiden RI periode 2019 – 2024 nanti terpilih dengan elegan, berwibawa dan tentunya aman tentram loh jinawi. Dan, setelah 17 April lalu, akhirnya mBah Coco turun gunung lagi, sekaligus kembali sebagai Pemimpin Redaksi Facebook Indonesia (sumpeh !!!).

Sejak sepak bola nasional diobok-obok dan diacak-acak oleh Satgas AntiMafia Bola, utusan Mabes Polri, 21 Desember 2018 hingga Joko Driyono, Ketua Umum PSSI dijadikan tersangka. Ada pertanyaan menggelitik dari mBah Coco. Tentang manever-manuver Satgas AntiMafia bola.

Mengapa Satgas AntiMafia Bola hanya menyentuh anggota Liga 2 dan 3? Apa yang membuat Satgas tidak berani masuk ke wilayah Liga 1? Apa benar yang sudah ditangkap Satgas tersebut, dan sudah dilimpahkan ke kejaksaan, semua bermain suap?

Jika melihat informasi dari manajer manager Persibara Banjarnegara Lasmi Indaryani, anaknya bupati Barjanegara Budhi Sarwono, yang sudah dijanjikan bisa lolos “32 Besar Nasional” ke Liga 2, dan juga mendapat jatah tuan rumah partai terakhir menuju “32 Besar Nasional”, cenderung masalah penipuan.

Dari keterangan Lasmi di acara Mata Njawa, berjudul “PSSI Bisa Apa Jilid 2”, menurut mBah Coco, terkesen persepsinya masuk ke delik penipuan. Pasalnya, yang dijanjikan anaknya mBah Pri, Anik Yuni Kartika Sari, tidak sesuai yang dijanjikan. Yaitu lolos ke: 32 Besar Nasional” Liga 2 Indonesia 2018.

Satgas AntiMafia Bola, tidak mengungkap detail, bahwa lawan-lawan Persibara Kabupaten Banjarnegara, dan juga Persibara melakukan praktik-praktik suap-menyuap, dalam pertandingan penyisihan grup. Dan, akhirnya Mbah Pri dan  Anik Yuni Kartika disangkakan melanggar undang-undang nomor 11 tahun 1980 tentang tindak pidana suap. Menurut mBah Coco, pelaku penipuan (mBah Pri dan Anuk Yuni Kartika), hanya dijerat Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), tentang penipuan.

Baca Juga  Bola Itu Memang Bundar, Pochettino Menangis di Tengah Lapangan

Artinya, Satgas AntiMafia Bola, tidak masuk ke ranah delik suap, yang diatur Pasal yang dipakai yakni Pasal 378 KUHP dan/atau Pasal 372 KUHP dan/atau Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap dan/atau Pasal 3, 4, 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU. Pelapornya adalah Lasmi Indaryani dari Persibara Banjarnegara. Melainkan delik-delik pasal penipuan.

Cerita tentang kasus suap atau delik penipuan, biarkan diperdebatkan di pengadilan.

Hanya saja, yang mBah Coco, melihat sepak terjang Satgas AntiMafia Bola, seharusnya masuk ke wilayah Liga 1 Indonesia, yang selama ini justru adhem-ayem, asyik-asyik saja, dan tidak berani disentuh oleh lembaga yang dibentuk Kapolri, Jenderal (Pol) Tito Karnavian.

Analisis mBah Coco, melihat Satgas AntiMafia Bola tidak berani masuk ke wilayah Liga 1 Indonesia 2018, dan juga struktur PSSI. Karena, banyak jenderal polisi dan juga pengusaha yang punya “power” luar biasa. Sehingga, tidak berani menyentuh mereka-mereka.

Contohnya, dalam struktur organisasi PSSI periode 2016 – 2020, ketua dewan pembinannya, Agum Gumelar (saat ini anggota Dewan Pertimbangan Presiden Jokowi), anggotanya – Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo (mantan Panglima TNI) dan Tito Karnavian (saat ini masih Kapolri). Bahkan, Ketua Dewan Pembina PSSI, Syafruddin, yang juga mantan Wakapolri, yang kini menjadi Menteri Pendayaguaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Kabinet Jokowi.

Sejak Januari 2019, mBah Coco hanya bisa menunggu dan berharap, agar Satgas AntiMafia Bola, bisa memanggil dan memeriksa Komjen Pol. (Purn) Syafruddin yang kini menjadi Menteri PAN-RB, untuk dimintai keterangannya dalam kasus pengaturan skor (suap menyuap) di sepak bola Indonesia. Hal ini perlu dilakukan, karena Syafruddin yang mantan Wakapolri merupakan Ketua Dewan Pembina PSSI periode 2016-2020, dewan pembina di Persija Jakarta dan Bhayangkara FC. Nyatanya, Satgas AntiMafia Bola tidak beraksi memanggil.

Baca Juga  The Reds Gagal, City Pertahankan Gelar Liga Premier

Kejahatan Suap Menyuap

mBah Coco menilai, bahwa Syafruddin sebagai penegak hukum yang ada di lingkungan PSSI, mestinya selaku Ketua Dewan Pembina PSSI, seharusnya melakukan pencegahan pengaturan skor, dan tidak membiarkan terjadinya kejahatan suap menyuap, pengaturan skor di sepak bola Tanah Air.

Oleh sebab itu, mBah Coco mengajak Satgas AntiMafia Bola, agar prioritas utamanya punya nyali memeriksa Syafruddin,  sesuai arahan Presiden Jokowi, bahwa kasus pengaturan skor harus dituntaskan. Artinya, semua orang yang terlibat langsung di pembinaan sepak bola Indonesia, juga harus dimintai keterangannya. Selain Syafruddin, juga memanggil Tito Karnavian, Agum Gumelar, Gatot Nurmantyo, agar segera tuntas.

Sayangnya, Satgas AntiMafia Bola, tidak berani menyentuh wilayah Liga 1 Indonesia 2018. Termasuk, memeriksan semua klub-klub anggotanya,  seperti PS TIRA yang dikelola Tommy Winata, atau PS Bhayangkara yang dikelola Condro Kirono, Kapolda Jawa Tengah (sekarang Kabaharkam Polri); sekaligus anggota EXCO PSSI 2016-2020, dan juga Ketua Tetap Wasit PSSI ?

Sejak sepak bola masuk wilayah yang katanya seolah-olah profesional, dengan bergulirnya nama Indonesia Super League musim 2008, dimana setiap klub yang puya duwit dan punya kekuasaan, bergiliran untuk bisa juara, adalah permainan yang kasat mata. Mampukah Satgas AntiMafia Bola menelusurinya?

Dan, ketika program Satgas AntiMafia Bola, bekerja hanya enam (6) bulan, sejak 21 Desember 2018, hingga 21 Juni 2019. Maka, bagi mBah Coco, sepak bola akan tetap sulit keluar dari lingkaran suap menyuap, dengan metode yang baru, tentunya. Sepertinya, yang sudah pernah dipraktikan di Liga 1 Indonesia 2019 lalu. Di mana ada metode-metode baru, yang tidak mampu disentuh Satgas AntiMafia Bola.

Etoro Bondowoso

Marsely Tambayong, Yon Moeis, Aguz Al Fatih, Salamun Nd, Wuryanto Raden, Helmi Atmaja, Nano Bramono, Toni Bramantara, Erik Irawan, Rully Nere, Agus Santoso, Marsal Masita, Estu Ernesto, Slamet Oerip Prihadi, Novan Herfiyana, Sugeng Teguh Santoso, Petrus Barus, Tebe Adhi, Bambang Suryo Bang Suryo, LLano Mahardika, Partoba Pangaribuan, Andi Chairil, Budiawan Hendratno, Agus Yuwono, Bani Maryanto. (24 April 2019) ***

Baca Juga  Arsenal Minta Pertimbangkan Baku untuk Final Liga Eropa