Press "Enter" to skip to content

Kendalikan Zoonosis, Syamsul: Kementan Tidak Bisa Sendiri

Social Media Share

JAKARTA, NP – Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Dirkesmavet) Kementan Syamsul Ma’arif menegaskan, upaya pengendalian wabah penyakit zoonosis, tidak bisa hanya ditangani sendiri oleh Kementerian Pertanian. Perlu koordinasi lintas sektor Kementerian/ Lembaga.

“Wabah zoonosis karena masuk ke dalam bencana non alam,  masuknya ke Kemenko PMK. Koordinatornya ada di situ. Di sana ada yang disebut konsep One Health.  Ada pelibatan semua kementerian, mulai dari Kementan, Kemenkes, KLHK, KKP. Perintah ada di Kemenko PMK. Jadi kalau kita rapat, kalau diundang kemenko PMK, minimal pengambil kebijakan itu yang harus hadir,”kata Syamsul usai membuka Koordinasi Zoonosis Nasional 2019, di Mataram Lombok, Jumat (27/9/2019).

Dirinya mencontohkan, Koordinasi Zoonosis Nasional 2019  yang leadnya adalah Kementerian Pertanian.

Menurut  Syamsul, intinya adalah melakukan vaksinasi. Kalau eliminasi pada hewan itu sulit. Tapi Bagi yang memelihara kita wajibkan paling tidak 70 persen saja dari ternak yang ada seperti hewan  anjing atau kucing  bisa kita vaksinasi, kita jamin 3 tahun saja penyakit itu sudah bisa kita kendalikan.

 

Foto ilustrasi pemusnahan anjing liar. (ist)

Ditanya soal daerah di Indonesia rawan terhadap  wabah penyakit zoonosis menurutnya, semua wilayah di Indonesia rawan.

“Kayak di NTB awalnya sudah bebas rabies, tetapi  kenapa bisa terjadi  KLB rabies di Kabupaten Sumbawa Nusa Tenggara Barat,”imbuh Syamsul.

Terkait itu, Syamsul menegaskan, upaya pengendalian rabies diperlukan koordinasi. Kementan tidak bisa bekerja sendiri.

“Semisal ketika ada kasus hewan  rabies, itu sudah domainnya masing-masing. Jadi perlu kerjasama lintas sektor. Kementan menyiapkan vaksin untuk hewannya, Kemenkes menyiapkan obat kalau terjadi gigitan ke manusia,”jelas Syamsul. (red)

 

Baca Juga  Peringati Isra' Mi'raj, Polres Pelabuhan Tanjung Priok Siap Amankan Pemilu 2019