Press "Enter" to skip to content

Kementan Pacu Sulawesi Tengah jadi Buffer Zone Cabai Kawasan Timur Indonesia

Social Media Share

JAKARTA, NP – Kementerian Pertanian (Kementan) gencar melakukan pemerataan pengembangan kawasan cabai di seluruh wilayah Kepulauan Indonesia. Menteri Pertanian Amran Sulaiman bahkan menargetkan seluruh wilayah pulau utama di Indonesia harus mandiri cabai.

“Jangan lagi tergantung pasokan dari Jawa semua. Luar Jawa harus bisa mandiri cabai. Pasokan harus aman, harga juga harus stabil,” tegas Amran dalam rilis tertulisnya.

“Potensi luar Jawa masih banyak, harus bisa dioptimalkan. Sudah dua kali ramadhan dan lebaran, harga dan pasokan cabai nasional stabil. Idul Adha, Natal dan tahun baru juga terpantau aman. Ini bukti kalau pengembangan kawasan cukup berhasil. Apalagi sejak 2016 tidak ada impor cabai lagi. Luar Jawa harus terus dipacu supaya inflasi di daerah bisa dikendalikan,” sambung Menteri berdarah Sulawesi ini.

Kepala Dinas Pertanian Propinsi Sulawesi Tengah, Trie Iriyani mengaku siap menjadikan wilayahnya sebagai penyangga atau buffer zone produksi cabai di Indonesia Timur. “Donggala, Banggai, Sigi, Parigi Moutong dan Tojo Una Una merupakan sentra cabai di Sulawesi Tengah. Kita terus perluas pengembangan kawasan di sini. Setahun ada sekitar 5 ribu hektare tanaman aneka cabai di Sulteng dengan produksi mencapai 33.500 ton dan terus mengalami peningkatan. Sedangkan kebutuhan kami hanya sekitar 18.500 ton saja dalam setahun, jadi ada surplus yang signifikan, bisa memasok wilayah sekitar. Tahun 2019 ini kami didukung oleh Kementerian Pertanian pengembangan kawasan cabai seluas 375 hektare. Bantuan tersebut sangat membantu,” ujar Trie semangat.

Nona Meythy, Kepala Bidang Hortikultura Kabupaten Donggala menyatakan siap mewujudkan Donggala bagian dari kawasan penyangga (buffer zone) cabai Sulawesi Tengah. “Donggala punya potensi sekitar 1.200 hektare pertanaman cabai selama musim tanam setahun. Saat ini riil sudah mencapai 900 an hektar. Kami punya jenis cabai rawit lokal yang sudah terkenal, rawit sirup namanya. Sangat pedas dan tahan simpan. Rawit sirup ini sudah dipasarkan sampai Gorontalo, Makasar, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Pertanaman ada terus bahkan umur produksinya bisa setahun lebih,” terangnya.

Baca Juga  Perkuat Toleransi, Satgas Yonif R 509 Ikuti Doa Bersama Warga

Menurut data Kementerian Pertanian, produksi nasional cabai pada 2018 lalu mencapai 2,52 juta ton lebih meliputi jenis rawit merah, rawit hijau, cabai keriting dan cabai merah besar. Angka tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya 2,36 juta ton. Kebutuhan nasional cabai diperkirakan 1,6 juta hingga 1,8 juta ton setahun.

Terkait hal tersebut, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Ismail Wahab kembali mengingatkan pentingnya pengaturan pola tanam, “Tidak hanya surplus produksi dalam setahun, tapi sebaran produksi antar bulan dan antar wilayah sudah kita atur sedemikian rupa melalui manajemen pola tanam. Jadi tidak ada lagi bulan yang produksinya berlebih atau ada bulan yang kekurangan produksi cabai.”

Guna memenuhi kebutuhan cabai di berbagai pulau, pemerintah terus berupaya melakukan terobosan diantaranya pengembangan cabai di luar Jawa dan perbaikan distribusi antar-pulau. Khusus menghadapi puasa dan lebaran tahun ini, Kementerian Pertanian telah memastikan pasokan cabai mencukupi. Pasalnya, beberapa sentra besar memasuki panen raya di bulan Mei – Juni 2019.(red)