Press "Enter" to skip to content

Kampung Reforma Agraria Duyu Bangkit: Dari Bencana Jadi Sentra Anggur Produktif

Social Media Share

Pemandangan kebun anggur yang rapi dan produktif di Desa Duyu, simbol kemajuan pertanian lokal melalui reforma agraria. (Foto: Ist)

PALU, NP – Kebun Anggur di Desa Duyu, yang kini dikenal sebagai Kampung Reforma Agraria Duyu Bangkit, menjadi bukti nyata keberhasilan pelaksanaan Reforma Agraria melalui Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Kota Palu, Sulawesi Tengah. Kawasan yang sebelumnya terdampak bencana pada 2018 kini bertransformasi menjadi sentra pertanian produktif sekaligus destinasi agrowisata favorit warga Kota Palu.

Program yang berjalan sejak 2021 ini mendorong penataan aset dan akses bagi masyarakat, khususnya para penyintas bencana. Melalui pendekatan terpadu, GTRA Kota Palu berhasil mengubah kawasan rawan menjadi zona produktif berbasis pertanian modern. Transformasi ini tidak hanya meningkatkan hasil pertanian, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga setempat.

Perencana Ahli Muda Dinas Pertanian sekaligus anggota GTRA Kota Palu, Sutikno Teguh Asparianto, mengaku bangga bisa terlibat dalam pengembangan Kampung Reforma Agraria Duyu Bangkit. “Perkembangan dari segi pendapatan teman-teman di sini menonjol. Karena dari sejarah panjangnya, mereka sebenarnya penyintas bencana,” ujarnya di Kebun Anggur Duyu, Rabu (28/1/2026).

Sutikno menjelaskan, keberhasilan program ini karena koordinasi yang baik antarinstansi. “Sejak 2021 kami tergabung dalam Gugus Tugas Reforma Agraria Kota Palu. Kebetulan Pak Wali Kota sebagai ketuanya, beliau memerintahkan kami mendukung program ini, dan BPN berperan sebagai koordinator. Jadi semua kegiatan dapat terkoordinasi dengan baik,” terangnya.

Manfaat program ini juga dirasakan langsung oleh warga, termasuk mereka yang tidak tergabung dalam kelompok tani utama. Ibrahim, salah satu warga Desa Duyu, mengatakan menanam anggur menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarganya. “Bersyukur lah, dapat penghasilan tambahan selain dari warung. Berkat terkenal juga Kampung Duyu Anggur ini,” ujarnya.

Ibrahim menuturkan, dari 20 pohon anggur yang ditanam sejak tiga tahun lalu, kini ia dapat memanen hingga tiga kali setahun dengan penghasilan sekitar empat juta rupiah setiap panen. Budidaya anggur tersebut bermula dari inisiatif pribadi setelah melihat referensi di YouTube dan arahan Ketua Petani Kampung Anggur Duyu Bangkit. “Kami coba-coba dulu, dan ternyata lumayan. Bibit awalnya juga dikasih oleh pak ketua,” tambahnya.

Keberhasilan Kampung Reforma Agraria Duyu Bangkit menunjukkan bahwa sinergi lintas sektor melalui GTRA Kota Palu mampu mengubah kawasan terdampak bencana menjadi wilayah produktif dan berdaya saing. Penataan lahan dan pemberdayaan masyarakat membuktikan bahwa Reforma Agraria dapat meningkatkan kesejahteraan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal. (red)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *