Press "Enter" to skip to content

50 Th BIG, Hasanuddin: Momen Percepatan Pemetaan

Social Media Share

JAKARTA, NP – Hari Informasi Geospasial (HIG) sekaligus ulang tahun ke-50 BIG (Badan Informasi Geospasial) pada 17 Oktober 2019 adalah momen untuk percepatan pemetaan. Untuk itu jajaran BIG dituntut harus lebih cepat dan memanfaatkan perkembangan teknologi.

Hal itu ditekankan Kepala BIG Hasanuddin Zainal Abidin usai acara Refleksi 50 Tahun BIG di Epicentrum XXI, Jakarta, Rabu (18/9/2019). “Ada artificial intelligence, Big data analytics, Internet of Things ini untuk percepatan dan pemetaan dan updating peta agar lebih cepat,”ujar Hasanuddin.

Sedangkan kalau untuk pemerintah Lanjut Hasanuddin, perlu adanya dukungan anggaran untuk peta 1:5000.   “Dan yang perlu juga kelembagaan. BIG kan hanya terpusat di Cibinong. Padahal permasalahan informasi geospasial, mulai dari kebakaran hutan, tumpang tindih lahan, reforma agraria kan di daerah. Harusnya di daerah ada dinas informasi geospasial level propinsi. Jadi yang menangani kebencanaan, tumpang tindih lahan, reforma agraria, mereka lebih cepat. Kan pak presiden mau cepat. Eksekusi. Nah secara kelembagaan (BIG) rentangnya terlalu luas,”papar Hasanuddin.

Kepala BIG Hasanuddin Zainal Abidin .(red)

Dirinya mengaku, di ulang tahunnya yang ke-50,  BIG telah menghasilkan sejumlah capaian yang sangat menggembirakan. “Peta dasar 1:50.000, 1 :25.000 dan yang kecil-kecil seluruh Indonesia sudah komplit. Kebijakan satu peta sudah selesai. Ina-Geoportal (Geoportal Nasional) sudah diresmikan Presiden dan sudah banyak didownload. Pengunjungnya sudah lebih dari sejuta,”ungkap Hasanuddin.

Ditanya soal kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), BIG kata dia, sebatas hanya membantu pembuatan peta saja, seperti peta lahan gambu dan untuk peta-peta yang lain sesuai dengan kebijakan satu peta.

“ Kita membackup informasi awalnya.  Kita membackup informasi untuk pencegahannya. Itu saja,”imbuh Hasanuddin.

Baca Juga  Bamsoet: KPPS di Sejumlah Provinsi Segera Selesaikan Rekapitulasi Hasil Pemilu 2019 

“Kedepan  peta dasar kita ingin 1: 5000, karena banyak sekali pembangunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), pemetaan desa, infrastruktur, smart city, reforma agraria. Itu perlu skala besar. Program ini tidak bisa nunggu. Kita harus cepat. Program yang baru, satu data Indonesia, yaitu bagaimana membawa kebijakan satu peta  ke satu data Indonesia,”pungkas Hasanuddin.(red)