Press "Enter" to skip to content

Sengaja Lupa: Diciptakan Berbeda untuk Saling Kenal, bukan Malah ‘Menjegal’

Social Media Share

Ketika pemerintah mencari reaksi yang pantas atas kerusuhan 22 Mei, minoritas Tionghoa mendapati diri terseret kembali ke sejarah kelam tragedi 1998. Sejumlah negara peringati warganya agar berhati-hati di Indonesia.

Bongkahan batu masih berserakan di kawasan Sarinah, Jakarta, pada Kamis (23/5) pagi usai bentrokan berdarah seputar hasil penghitungan suara. Enam orang dinyatakan meninggal dunia, sementara 271 mengalami luka-luka, di antaranya 16 luka berat.

Polisi mengendus adanya provokator bayaran dan menangkap lebih dari 250 orang yang diduga bertanggungjawab menyulut kekerasan. Uang tunai bernilai jutaan Rupiah, begitu klaim kepolisian, berhasil diamankan bersama sejumlah tersangka.

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto bahkan mengaku sudah mengantongi nama-nama dalang yang terlibat. Pemerintah yang sejak awal meniupkan isu makar terkait penggalangan aksi demonstrasi di depan gedung Bawaslu itu bersiap memukul balik lewat jalur hukum.

Kementerian Komunikasi dan Informatika bahkan membatasi akses sejumlah kanal media sosial, antara lain Whatsapp dan Instagram, lantaran mengkhawatirkan gelombang hoaks dan kabar palsu.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Ketika aksi protes mulai berubah anarkistis, pesan bersikan gambar polisi bertopeng yang dituding sebagai aparat impor dari Cina menyebar cepat di media sosial. “Polisi Cina biadab tembaki jamaah di masjid,” begitu bunyi sebuah video Youtube yang ramai diunggah.

Namun ketika Polri menanggapi hoaks tersebut dengan santai, warga keturunan etnis Tionghoa malah berdebar-debar.

“Hari ini adalah peringatan bagi komunitas Cina-Indonesia bahwa kita masih dilihat sebagai ‘orang lain’, yang membawa ancaman. Banyak yang belum bisa melihat kami melebihi ciri-ciri fisik kami, yakni mata sipit dan kulit kuning,” tulis seorang netizen di Twitter.

Kepada The Jakarta Post, sejumlah warga etnis Tionghoa di Jakarta juga mengeluhkan betapa rasa takut dijadikan sasaran serangan amuk massa serupa 1998 kembali menguat pada malam 22 Mei silam. “Setiap kali ada kerusuhan, warga etnis Tionghoa yang selalu dijadikan target. Ini seperti mmpi buruk,” kisah seorang warga kepada harian berbahasa Inggris tersebut.

Baca Juga  Pengalaman Pertama Berpuasa di Amerika

Kepada South China Morning Post, pegiat HAM dari Human Rights Watch Andreas Harsono, menuturkan betapa elit politik dan militer yang aktif di kedua kubu menyimpan reputasi memanfaatkan sentimen anti Cina untuk memobilisasi massa.

“Mereka melakukannya di Jawa pada 1998 dan mereka berusaha melakukannya lagi sekarang,” tuturnya.

Akibat kisruh di Jakarta sejumlah negara kini menerbitkan peringatan perjalanan ke Indonesia, antara lain Malaysia, Australia, Singapura, Inggris, Jerman, Kanada, Amerika Serikat dan Cina. Semua mewanti-wanti warganya agar menjauhi kerumunan massa menyusul ketegangan politik dan sosial.

“Berhati-hati lah jika di Indonesia,” tulis harian The Star Online asal Malaysia dalam sebuah artikel layanan masyarakat buat wisatawan. “Kedutaan Malaysia telah melaporkan tentang kemungkinan adanya demonstrasi massal lanjutan dalamn waktu dekat,” tulis Kementerian Luar Negeri di Kuala Lumpur dalam situsnya.

Peringatan untuk berhati-hati ketika berpelesir ke Indonesia juga bisa ditemukan di media-media Australia, Inggris dan Singapura. (DW/her)