Press "Enter" to skip to content

Kerusuhan 22 Mei: Bisnis di Jakarta Rugi Triliunan Rupiah

Social Media Share

Para penggerak demo ’22 Mei’ mauapu pelaku rusuh, enggak mikir bahwa perbuatannya tersebut sangat merugikan orang banyak. Sebut saja di kawasan Tanahabang.  Dodi, bukan nama sebenarnya, mengeluhkan tokonya sangat sepi pengunjung pada Kamis (23/5) dan Jumat (24/5). Padahal saat-saat menjelang lebaran seperti ini adalah saat yang dinantikan karena jualannya khusus gamis.

“Kalau berdasarkan lebaran sebelumnya, sekarang ini lagi ramai-ramainya, lagi puncak-puncaknya, dua minggu sebelum lebaran. Sekarang justru kebalikannya,” tambah Dodi.

Dodi juga mengatakan bahwa omzet penjualannya langsung berkurang lebih dari setengah rata-rata omzet hariannya akibat demo yang dimulai tanggal 21 Mei dan berlanjut sampai 22 Mei.

Dodi bukan satu-satunya pedagang yang merasakan hal yang sama. Bahkan di sepanjang jalan Thamrin, terlihat tak ada aktivitas sama sekali dari Selasa (21/5) hingga Kamis (23/5) akibat warga mengantisipasi jika demo menjadi ricuh.

Wakil Ketua Umum Kadin DKI Jakarta Sarman Simanjorang bahkan mengatakan bahwa kerugian dari demo 22 Mei mencapai Rp1,5 triliun, akibat menghilangnya omzet pedagang dari sekitar 80 ribu kios di Jakarta.

Bea Sewa dan G aji Karyawan

Secara kasat mata, yang sangat terdampak dari ketegangan di Jakarta selama aksi massa adalah sederetan restoran juga pusat perbelanjaan Sarinah yang tepat berada di depan gedung Bawaslu – yang areanya lalu diduduki oleh para pemrotes.

Pusat perbelanjaan Sarinah mengatakan mereka rugi setengah miliar per hari akibat terpaksa menutup pintu toko mereka.

Mal besar seperti Grand Indonesia dan Plaza Indonesia pun tutup pada pukul 3 sore pada 22 Mei, pada puncak aksi massa. Grand Indonesia langsung beroperasi normal keesokan harinya, sedang Plaza Indonesia tutup hingga Jumat (24/5) mengantisipasi adanya demo lanjutan.

Baca Juga  Hamparan Jeruk di Kabupaten Malang, Seluas Mata Memandang

Tutum Rahanta, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), menjelaskan bahwa kerugian dari penutupan toko adalah biaya sewa gedung dan gaji karyawan yang setiap hari terbebankan ke pengusaha, dan biaya sewa di pusat kota Jakarta, tentu saja, paling tinggi dibanding area lainnya.

Penuandaan Pembelian

Meski begitu, Tutum mengatakan bahwa dalam ritel masih ada kemungkinan pelanggan menunda pembelian mereka, khususnya untuk jenis barang sekunder, sehingga tidak serta merta bisnis-bisnis itu langsung kehilangan penjualan mereka.

Athat, misalnya, pemilik sebuah toko di Tanah Abang, mengatakan bahwa begitu dia beroperasi seperti biasa pada Jumat (24/5), penjualan langsung berjalan normal.

“Ramai juga kok (karena) sudah tertunda dua hari,” ujarnya. Athat terpaksa menutup tokonya pada Rabu (22/5) dan Kamis (23/5) akibat demontrasi yang terjadi tak jauh dari pusat perbelanjaan Tanah Abang.

Selain itu, konsumen juga masih bisa membeli barang di outlet di area lain, sehingga belum tentu terjadi kehilangan penjualan.

Bisnis Restoran dan Hotel

Berbeda dengan ritel barang, tidak ada penundaan pembelian dalam bisnis restoran dan kafe – mereka langsung kehilangan pendapatan jika tak beroperasi.

“Yang menjadi meeting point orang, yaitu restoran-restoran dan kafe-kafe, dan bioskop, itu sudah pasti langsung hari itu hilang omzetnya. Tidak bisa tergantikan lagi besok atau lusanya,” papar Tutum.

Yang juga serupa dengan bisnis makanan dan minuman, adalah bisnis perhotelan. Jika tamu hotel menjadwal ulang atau membatalkan pesanan mereka, maka hotel-hotel ini akan langsung menderita kerugian.

“Tanah Abang hari ini gak dibeli, barangnya kan masih bisa disimpan. Besok orang datang, dia tinggal mengeluarkan stoknya. Kalau hotel hari ini gak ada tamu, hilang opportunity transaksinya,” jelas Hariyadi Sukamdani.

Baca Juga  Kopda Hardius Kuasai 7 Bahasa Asing, 28 Atase Militer Terkesan

Banyak hotel di Jakarta Pusat, meski data pastinya tidak dapat diberikan Hariyadi, kehilangan okupansi akibat demo. Hotel Sari Pan Pacific, Pullman Thamrin, Mandarin Oriental, Hyatt dan Kempinski adalah beberapa di antaranya. ilpres terjadi di depan Bawaslu, Rabu (22/05).

Dampak Tak Langsung

Yang terdampak tentu bukan bisnis ritel saja. Perusahaan-perusahaan yang meminta staffnya bekerja dari rumah juga pasti menerima dampak negatif.

Selain itu, bisnis yang masih beroperasi pun mendapatkan dampak tak langsung, seperti layanan transportasi online, yang frekuensinya menjadi melambat.

Namun itu semua adalah dampak jangka pendek dari demo 21,22 Mei.

Dalam jangka panjang, jika demonstrasi masih berlanjut, maka dapat menimbulkan efek psikologi khususnya bagi para investor. Dan ini, yang dikhawatirkan oleh Tutum Rahanta dari Aprindo.

Jika investasi menurun, maka lapangan pekerjaan dan pendapatan masyarakatpun dikhawatirkan menurun. “Semoga kekhawatiran ini tidak akan menjadi nyata,” tutur Tutum Rahanta, menghela napas  panjang. (BBC/her)