Press "Enter" to skip to content

Debat Ketat Game of Thrones Terakhir: Para Perempuan Mengubah Sejarah Westeros

Social Media Share

Terserah Anda mau bilang apa tentang alur ceritanya, tetapi tidak dapat disangkal bahwa musim kedelapan dan terakhir Game of Thrones adalah milik para perempuan Westeros.

Memang ada masalah besar dengan jalannya cerita para karakter, tapi kini jelas bahwa saat-saat terakhir Game of Thrones adalah tentang para pemeran wanita yang dinamis.

Dari Daenerys Targaryen ke Lyanna Mormont, para perempuan menempati panggung utama sementara para lelaki duduk di kursi belakang.

Tapi pada akhirnya semua harus berakhir, tapi Game of Thrones Season 8 episode 6, atau episode terakhir acara ini sudah ditayangkan Minggu malam di AS, atau Senin pagi 20 Mei di Indonesia.

Sambil mengucapkan selamat tinggal pada Game of Thrones, mari kita melihat kembali momen-momen bersejarah para perempuan yang mengubah sejarah Westeros.

Peringatan: Malam gelap dan penuh spoiler. Jika Anda belum menyaksikan hingga Season 8 Episode 5, sebaiknya Anda berpaling. Kalau tidak, baca terus. Tidak mengandung spoiler episode terakhir.

Long May She Reign (api dan darah)

Seperti kata pepatah: “Setiap kali Targaryen lahir, para dewa melemparkan koin ke udara dan dunia menahan napas untuk melihat hasilnya.”

Para fans menggantungkan harapan besar bagi Daenerys Targaryen untuk membangun dan memulai tatanan dunia baru. Tetapi setelah mengalami pengkhianatan dan berbagai kehilangan, sang ratu naga yang berduka pun berubah secara drastis.

Dia tidak membuang sedikit pun waktu ketika menghancurkan ibukota King’s Landing dengan api naga, meskipun kota itu sudah menyerah dan putus asa.

Reaksi penggemar terhadap pembunuhan yang dilakukan oleh Daenerys berkisar dari kemarahan hingga kekecewaan. “Apa yang dia lakukan kepada warga sipil adalah [sama dengan] genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan,” kata pengacara Lim Wei Jiet melalui Twitternya.

Penggemar lainnya berkata: “Daenerys tadinya adalah pembebas, tapi kini saya kecewa padanya.”

Penulis Melissa Silverstein menyesalkan matinya perkembangan karakter Daenerys. “Sepanjang seri dia bicara tentang visinya tentang kepemimpinan dan bagaimana dia ingin berbeda dari para laki-laki yang memimpin sebelum dia. Tapi semua itu diabaikan begitu saja ketika dia tiba-tiba berputar-putar dalam kegilaan dan menghancurkan King’s Landing.”

Jadi Daenerys telah memenangkan Iron Throne. Tetapi berapa biayanya?

Gagasan tentang ratu naga gila telah membuat marah banyak orang, tetapi kolumnis budaya pop dan pendukung Targaryen, Stephanie Wilson menyoroti “standar ganda” yang muncul dalam serial ini.

“Para pemimpin pria seperti Jon Snow dan Tyrion Lannister telah mengeksekusi orang dan menyusun rencana yang menyebabkan ribuan kematian (Pertempuran Blackwater). Baratheon bersaudara melancarkan perang berdarah untuk mengambil alih takhta,” katanya.

“Tapi ketika Daenerys bertindak, dia dianggap gila, haus kekuasaan, dan kejam.”

Aktris, komik, dan penulis AS Mindy Kaling menambahkan bahwa jika menjadi Dany, dia akan “melakukan hal yang sama”.

Tetapi apakah pahlawan perempuan memang harus selalu memainkan peran penyelamat? Aktris Emilia Clarke membela Daenerys dan memberikan beberapa bocoran tentang pola pikir karakternya. “Kamu bisa menyebutnya kegilaan Targaryen dan memberinya nama yang tidak pantas, tetapi itu sebenarnya hanya kesedihan yang menyakitkan,” katanya.

Baca Juga  Miing Bagito, Derry 4 Sekawan dan Lies Hadi Akan Ramaikan Reuni JUPRI

“Sangat alami jika seseorang merasakan amarah. Ketika Anda merasakan banyak sekali kegagalan, kekecewaan, rasa malu, sakit hati dan kehilangan cinta, ada menahan rasa sakit pun ada batasnya sampai akhirnya Anda snap.”

Showrunner David Benioff mengatakan bahwa kesunyian membuat Daenerys berada di ambang kegilaan, sedangkan psikoterapis Bristol, Michelle Briggs mencatat dampak faktor-faktor seperti trauma psikologis, menyaksikan kematian dan kehilangan kendali. “Setiap kali kita menilai seseorang dan menyebutnya gila, kita juga harus memperhatikan orang-orang dan peristiwa yang membuat mereka seperti itu,” katanya.

Singa Betina tak Pernah Peduli dengan Pendapat Domba

“Kamu akan menjadi ratu. Sampai tiba ratu yang lain; lebih muda dan lebih cantik, untuk menjatuhkanmu dan mengambil semua yang kamu sayangi.”

Ramalan yang menakutkan itu menjadi kenyataan bagi antagonis utama di Game of Thrones, Cersei Lannister, yang akhirnya bertemu dengan lawan sepadannya dan ditumbangkan oleh Daenerys Targaryen.

Meskipun dia berusaha mempertahankan kekuasaannya, ratu jahat itu akhirnya “kehilangan kendali”, demikian aktris Lena Headey menyimpulkannya.

“Cersei selalu ditakdirkan untuk sendirian. Dia menghancurkan setiap aliansi yang baik, koneksi dan cinta dalam hidupnya. Dan sampai menit terakhir, dia, seperti biasa, menyangkal apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.

Selama masa pemerintahannya, sulit untuk menggambarkan dampak Cersei bagi Tujuh Kerajaan. Selalu ada sesuatu yang kompleks tentang itu.

Stephanie Wilson mengira Cersei juga menjadi korban dari sistem yang membesarkannya.

“Cersei Lannister menyimpan kebencian tentang bagaimana sistem patriarkal di Westeros telah menjauhkannya dari kekuatan sejati sedemikian lama, sehingga pada tingkat tertentu, ketika akhirnya dia menjadi ratu adalah momen yang memberdayakan,” katanya.

“Dia jahat hingga ke tulang rusuknya, tetapi dalam perannya sebagai antagonis, dia setara dengan laki-laki dan pantas mendapatkan gelar untuk menyamai kekuatan yang dia perjuangkan dengan susah payah.

“Tapi kekejaman dan kesadisannya memang masih membuat kita canggung untuk merasa benar-benar bahagia untuk Cersei. Belasungkawa kami kepada Ratu Gila yang sejati. Ada cara yang lebih buruk untuk mati dan waktu kematiannya adalah waktu yang paling baik untuk meninggalkan Westeros sebelum Westeros jadi makin gila.”

The Lady of Winterfell: Seorang Penyintas Sejati 

Penyintas belum tentu mereka yang terkuat. Seringkali, mereka adalah yang paling cerdas. Perkatanaan itu paling menggambarkan Sansa, putri Stark tertua yang kehilangan banyak kepolosannya setelah menyaksikan eksekusi brutal ayahnya, dan belajar tentang kematian tragis ibu dan saudara-saudaranya.

Trauma, dalam wujud atau bentuk apa pun, berdampak pada kita . Sayangnya untuk Sansa, dia terus mengalami penderitaan di dalam tangan para pria.

Adegan kontroversial yang menggambarkan kekerasan dalam rumah tangga dan perkosaan dalam pernikahannya dengan Ramsay Bolton, membuat marah para penggemar. Tapi Sansa menolak dilemahkan.

Dia muncul kembali, lebih kuat dan untuk para penggemarnya, berhasil hidup melampaui apa yang dialami karakter lain di acara itu. Namun perekambangan karakternya memicu perdebatan sengit di antara para penyintas kekerasan seksual, yang berpendapat bahwa pemerkosaan tidak boleh digunakan “sebagai alat plot” untuk meningkatkan atau mendefinisikan karakter wanita.

Baca Juga  Marsinah Telah Tiada, Namun Terus Ada, dan Berlipat Ganda

Dosen media Dr Stephanie Genz dari Universitas Nottingham Trent mengatakan itu adalah “logika seksis”. “Perempuan seharusnya tidak perlu dilecehkan dan ‘dirusak’ sebelum mereka dapat mendapatkan ketahanan atau ketangguhan,” katanya kepada BBC.

Aktris AS Jessica Chastain mengatakan “kekuatan yang ada di dalam diri Sansa semata-mata karena dia dan dia sendiri”. Tetapi meskipun kini Sansa telah menjadi pemimpin Utara yang sepenuhnya matang, pendapat tentang Lady of Winterfell tetap terpecah belah.

Akademisi Dr Elizabeth Beaton menyalahkan stereotip maskulin, yang menurutnya banyak berkaitan dengan “konsep tradisional maskulinitas dan feminitas”.

“Pahlawan pria biasanya digambarkan mencapai tujuan mereka melalui aksi, sedangkan kepasifan sering dianggap sebagai kelemahan, Kekuatan Sansa muncul ketika dia berhasil menjadi penyintas, dan bukan sebagai agresor.”

‘Berkelahi seperti perempuan’

Anda berpikir hanya pria yang bisa menang dalam pertempuran? Pikirkan lagi. Selama ini Jon Snow mungkin selalu dianggap sebagai pahlawan. Tetapi dalam pertarungan epik dan penuh adrenalin antara yang hidup dan yang mati, justru itu adik perempuannya (sepupu) Arya Stark yang membunuh salah satu penjahat terbesar Game of Thrones.

“Berkelahi seperti seorang gadis? Oke!” kata penggemar, Eileen Ng, yang mengakui dia sebenarnya mengharapkan Jon yang mengakhiri hidup sang penguasa kematian.

“Setelah berlatih sebagai pembunuh selama bertahun-tahun, kinerja Arya adalah bukti betapa kuat dan berdedikasi perempuan. Dia pantas menikmati setiap menit dari kemenangan itu.”

Mungkin ada pria yang lebih besar di medan perang malam itu, tapi di antara mereka ada perempuan MVP [Pemain Paling Berharga]. Penonton pun bersemangat dan bersorak untuk Lady Lyanna Mormont, yang mengalahkan lawan lebih dari lima kali ukuran tubuhnya: raksasa zombie es yang mengerikan.

“Prajurit terkecil itu membuktikan bahwa dia adalah pahlawan yang lebih besar daripada pria dewasa di sekitarnya,” tulis seorang penggemar di Facebook. Blogger Ani Bundel sangat memuji aktris Inggris berusia 16 tahun, Bella Ramsay, yang memerankan pemimpin muda Bear Island yang penuh semangat.

“HBO telah memilih casting hebat,” katanya. “Lyanna Mormont mencuri perhatian di setiap adegan dan ketika waktunya habis, dia dianugerahi akhir bagai David dan Goliath.”

Ksatria Wanita dari Tujuh Kerajaan

Keksatriaan di Tujuh Kerajaan tidak sesuai dengan apa yang Anda pikirkan. Ksatria perempuan hampir tidak pernah terdengar di Westeros, tempat misogini dan patriarki berkembang pesat. Tapi Brienne dari Tarth dan perkambangan karakternya yang bersudut pandang perempuan, terbukti menjadi agen perubahan ketika dia menerima gelar bangsawan dari Kingslayer Jamie Lannister.

“Brienne selalu lebih pantas daripada ksatria lain di acara itu tetapi dia tidak ksatria karena dia perempuan. Dia selalu layak menjadi ksatria dan jenis kelamin tidak boleh menghalangi,” kata Stephanie Wilson.

Blogger Chloe Ketchum menggambarkan adegan itu sebagai salah satu adegan yang paling emosional.

“Perjalanan Brienne selalu tentang menerima, tetap setia pada diri sendiri dan melihat dia dalam norma gender tradisional itu hebat. Satu-satunya hal yang tidak dibutuhkan ksatria baru ini adalah bagaimana Jamie “memperbaiki” keperawanannya. Situasinya dengan Jamie sangat mengerikan,” kata Wilson.

Baca Juga  Berawa Beach Arts Festival

“Perempuan kuat berhak merasakan emosi, tapi penulis serial ini jelas mengeksploitasi kelemahannya untuk mendorong plot seorang pria.”

Semua orang menyukai bocah nakal, tapi bagaimana dengan tokoh jahat? Melisandre bukan antagonis, tetapi tentu saja wajar jika banyak penggemar tidak ramah padanya. Bagaimanapun, dia bertanggung jawab atas pembakaran anak keci hidup-hidup. Aktris Carice van Houten bahkan menerima ancaman pembunuhan setelah perbuatan mengerikan itu ditayangkan.

“Pertama, Melisandre adalah penyihir sehingga Anda bisa mengatakan bahwa dia dirancang untuk dibenci,” kata penulis feminis yang berbasis di Singapura, Wenny Yeo.

“Dia juga sangat haus kekuasaan dan melakukan kesalahan buruk, tetapi ada hal lebih buruk yang dilakukan seseorang di acara seperti Game of Thrones.”

Karakter kontroversial sejak itu telah menebus dirinya di mata penggemar ketika dia datang memberi bantuan ke Utara. Ramalan-ramalan Perempuan Merah yang gagal segera dilupakan ketika sihir apinya menyinari tentara Dothraki dan parit kayu.

Pembicaraan motivasinya dengan Arya Stark bahkan dipuji karena sebagai faktor untuk memenangkan perang besar. Tidak dapat dipungkiri bahwa dia berjuang melawan kesakitan, tetapi terkadang, pendapat penggemar yang berubah-ubah adalah masalahnya.

Penulis progresif Stephen King mengatakan dia menyukai seri terakhir, dengan menambahkan: “Ada banyak hal negatif, tetapi saya pikir itu hanya karena orang tidak ingin akhir apapun. Tapi Anda tahu apa yang mereka katakan: Semua hal baik … ”

Mari Kita Bicara Tentang seks

Game of Thrones tidak asing dengan kritik. Sejak dimulai pada  2011, serial ini telah banyak dikritik karena melanggengkan pemerkosaan, kekerasan seksual dan objektifisasi perempuan – di tengah tuduhan bahwa hal itu menjadi pemenuh hawa nafsu penonton pria.

“Dari saat adegan seks di mana hanya wanita yang telanjang, hingga foto-foto pekerja seks wanita telanjang, pertunjukan ini telah menceritakan adegannya melalui tatapan pria,” kata Dr Beaton.

Pengkritik lain percaya masalahnya terletak pada kurangnya penulis wanita di acara itu. Hanya ada satu sutradara wanita dalam delapan tahun terakhir. Tapi ini berubah ketika Arya Stark yang membawa kemenangan lain, yakni ketika dia memutuskan untuk kehilangan keperawanannya dengan caranya sendiri. Fans memuji pembunuh muda itu karena menampilkan pemberdayaan perempuan.

“Adegan Arya tidur dengan Gendry Baratheon adalah salah satu adegan seks yang paling tidak menyinggung dalam seluruh sejarah Game of Thrones,” tulis seorang penggemar di Facebook.

“Itu menunjukkan bahwa tidak apa-apa dan wajar jika perempuan muda ingin berhubungan seks.” Dr Genz menambahkan bahwa kejadian itu “bukan langkah kekuasaan dan sepenuhnya mau sama mauSelanjutnya, ketika Arya menolak lamaran pernikahan Gendry, itu menunjukkan penolakannya untuk ’dijinakkan ’”.

Satu langkah kecil untuk seorang pembunuh muda, satu lompatan raksasa untuk perempuan di Westeros. (BBC/her)