Press "Enter" to skip to content

Warganet Kasih Apresiasi Cara Polisi Menangani Aksi: Catatan Mini Demo 22 Mei

Social Media Share

Berbagai aksi polisi dalam meredam massa yang turun ke jalan pada 21 dan 22 Mei 2019 banyak mendapat pujian warganet, meski ada juga yang menganggap bahwa langkah polisi tersebut biasa, sudah sepantasnya.

Di media sosial, berbagai aksi polisi untuk menghalau massa dalam demo 22 Mei banyak mendapat perhatian dari warganet.

Setelah sebelumnya foto seorang petugas keamanan yang tertangkap kamera sedang bicara dengan anaknya melalui video telepon memicu simpati warganet, kini tak sedikit yang membandingkan aksi para polisi dengan aksi para jagoan dalam film Avengers.

Setidaknya ada dua video yang tersebar di media sosial yang memperlihatkan pergerakan Brimob dengan dipasangi musik latar film Avengers.

Di Twitter, salah satu video itu sudah disebar lebih dari 20.000 kali.

Selain dengan Avengers, tak sedikit juga warganet yang membandingkan polisi dengan Unsullied atau pasukan tentara elite yang ada di serial Game of Thrones karena kemiripan bentuk seragam mereka.

Sementara itu, sebuah video yang memperlihatkan para Brimob sedang melakukan tarian ‘goyang Kaka Enda’ massal di tengah aksi 21-22 Mei juga sudah disebar hampir 10.000 kali.

Video lain yang membawa pesan ‘Kami kuat menahan emosi’, yang memperlihatkan polisi sedang menghadapi aksi demonstrasi, juga sudah disebar hampir 30.000 kali.

Sementara itu, video dari KompasTV yang memperlihatkan Kapolres Jakarta Pusat Kombes Harry Kurniawan yang tengah menaiki mobil pengurai massa untuk meredakan bentrokan di depan Bawaslu juga disebar hampir 25.000 kali. Video lain yang tersebar di media sosial, yang memperlihatkan petugas polisi “tengah memukuli seorang”.

Bentuk Romantisme

Namun ada juga warganet yang menganggap bahwa pujian yang disampaikan pada polisi adalah bentuk “romantisasi” karena sudah sepantasnya polisi menjalankan tugasnya dalam cara yang memiminalkan konflik.

Baca Juga  ‘Sajak Selasa’ di Bentara Budaya Jakarta Angkat Tema ‘Betawi Dalam Puisi’

Pujian terhadap polisi itu kemudian juga dibandingkan dengan cara polisi menangani kelompok yang dituduh ‘anarko-sindikalis’ dengan menggunduli dan menelanjangi pada Hari Buruh di Bandung, 1 Mei lalu.

Polisi saat itu juga dilaporkan menginjak tulang kering dan lutut wartawan serta menghapus foto.

Menurut peneliti di Pusat Kajian Komunikasi UI, Clara Endah Triastuti, meme atau video-video soal polisi yang beredar bukanlah sesuatu yang tiba-tiba, berdiri sendiri atau berlebihan.

Bahkan, menurutnya, kemunculannya bisa ditelusuri ke belakang, dari mulai saat pemilu, hitung cepat, narasi “kecurangan KPU” sampai saat muncul wacana “people power”.

“Karena kita dikelilingi oleh media, kita tak bisa menghindari untuk tidak mengonsumsinya. (Narasi ini) menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari selama sebulan terakhir yang merupakan bagian dari cerita kita. Ini bagian dari cerita yang terus disampaikan dari sejak pemilu sampai hari ini,” kata Clara.u (22/5).

Membandingkan Dngan kerusuhan Mei 1998

Yang menarik, menurutnya, ada juga narasi-narasi di media sosial yang membandingkan aksi massa sekarang dengan yang terjadi pada 1998.

“Contohnya ada narasi, pada 1998 pendemo membagikan minuman pada mahasiswa, di  2019 pendemo membagikan minuman pada polisi.”

“Justru trending-nya (video polisi) menjadi meme ini memperlihatkan bahwa mungkin ada demo (yang) sama dengan 1998, mungkin ada anarkisme, tetapi pemerintah (sekarang) ada di pihak yang berbeda. Dan ini menunjukkan masyarakat pintar, bahwa mereka tak sekadar ‘masyarakat benci pemerintah’ atau ‘masyarakat benci polisi’, nggak gitu, tapi dengan membagikan meme, masyarakat juga menunjukkan keberpihakannya,” kata Clara.

Dia menambahkan bahwa meski ada masyarakat yang benar turun ke jalan dan memberi makanan atau minuman pada polisi, namun dengan membagikan video atau meme soal polisi yang bertugas pada 21-22 Mei 2019 dan membandingkannya dengan Avengers, masyarakat seperti “membela polisi” dengan cara aktivisme klik (clicktivism).

Baca Juga  Berawa Beach Arts Festival

“Mungkin akan berlanjut nggak (dukungannya)? Mungkin saja. Mungkin terganti dengan yang lebih banyak share-nya nggak? Mungkin saja. Storytelling itu susah dipotong, saya lebih melihat ini sebagai cerita yang terus berlanjut di media sosial.”

(Ilustrasi: Di tengah kegaduhan aksi, yang membuat degub jantung dan hati, tetep ada foto aksi. (BBC/getty image/her)