Press "Enter" to skip to content

Indonesia Mampu Bersaing di Bedah Saraf, Aspek Riset Perlu Digenjot

Social Media Share

Prof. Satyanegara (tengah) berbincang dengan seorang diaspora Indonesia di Amerika (kiri) saat menerima kunjungan di ruang kerjanya di Tzu Chi Hospital PIK, Jakarta, Senin (16/3/2026). (Foto: Ist)

JAKARTA, NP – Pelayanan bedah saraf di rumah sakit di Indonesia semakin maju dan berkembang. Meski demikian, untuk penanganan kasus medis kompleks, kualitasnya masih belum sepenuhnya setara dengan negara-negara maju seperti Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat.

“Sebetulnya bedah saraf di Indonesia sudah cukup maju. Kalau dibandingkan dengan Amerika, kami hanya kalah dalam kegiatan medical research. Selama ini, ahli bedah saraf di Indonesia lebih banyak praktik, tetapi minim research,” kata ahli bedah saraf, Prof. Satyanegara, kepada redaksi di Tzu Chi Hospital (TCH) PIK, Jakarta, Senin (16/3/2026).

Kemajuan tersebut antara lain ditandai dengan berdirinya pusat rujukan nasional untuk gangguan saraf dan otak yang memiliki layanan unggulan bedah saraf dan neurovaskular. Salah satunya adalah Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono, Jakarta, yang menjadi rujukan nasional dalam penanganan kesehatan otak dan saraf.

“Dokter-dokter muda ahli bedah saraf juga selalu mengikuti simposium dan seminar kedokteran. Kalau mereka tekun belajar seperti dokter-dokter di PON, bahkan lulusan Stanford University, pasti bisa semakin menyamai Amerika,” ujar Direktur Senior Tzu Chi Hospital PIK.

Setelah lulus dari fakultas kedokteran (FK) dan program pendidikan dokter spesialis (PPDS), dokter muda dapat berprofesi sebagai ahli bedah saraf. Namun, untuk meningkatkan kompetensi, mereka masih harus mengikuti program lanjutan berupa pendidikan subspesialis.

Program ini merupakan pendalaman pada aspek tertentu dalam bidang spesifik atau area of special interest, sehingga lulusan mampu memberikan pelayanan medis subspesialistik dengan kualitas tinggi, berbasis bukti ilmiah, serta sesuai standar internasional.

“Contohnya, setelah lulus FK mereka ingin mendalami endoskopi, maka akan mencari sekolah atau rumah sakit dengan fasilitas yang baik di negara maju. Mereka bisa belajar sekitar setengah tahun. Kalau mengikuti fellowship dokter spesialis, durasinya bisa di atas enam bulan hingga paling lama 24 bulan. Untuk program luar negeri jangka pendek, paling singkat tiga bulan hingga maksimal 24 bulan,” jelas Prof. Satyanegara.

Saat ini, jumlah ahli bedah saraf di Indonesia mencapai sekitar 600 orang. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan pada 1972, ketika Prof. Satyanegara kembali ke Indonesia setelah meraih gelar kedokteran dan doktoral di Jepang, yang saat itu hanya terdapat puluhan ahli bedah saraf.

Kini, dokter-dokter muda juga didukung dengan peralatan kesehatan berteknologi tinggi. Dari sisi pengetahuan, keahlian, dan kompetensi, kemampuan mereka dinilai tidak jauh berbeda dengan dokter di luar negeri.

“Dokter Indonesia perlu diberi kesempatan lebih luas untuk praktik dan menggunakan alat-alat high-tech. Seperti di Tzu Chi Hospital, fasilitasnya relatif cukup lengkap sehingga tidak kalah dibanding luar negeri. Hanya saja, alat kesehatan masih harus impor dan harganya sangat mahal,” ujarnya.

Tzu Chi Hospital juga memiliki lima layanan unggulan, yaitu bedah saraf (neurosurgery), transplantasi tulang, kebidanan dan kandungan (obgyn), pediatri, serta palliative care, yakni pendekatan perawatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan penyakit serius.

Selain itu, dokter muda juga dibekali etika kedokteran sebagai pedoman dalam menjalankan profesi secara profesional dan bermoral.

“Untuk level Asia Tenggara, kedokteran Indonesia tidak kalah. Kalaupun ke Singapura, hanya sebagai pembanding. Namun, untuk studi ke Jerman, Jepang, atau Amerika, biasanya lebih mumpuni. Sekarang ini, Korea juga menjadi tujuan untuk menjadi dokter estetika medik,” kata Prof. Satyanegara. (Liu)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *