Press "Enter" to skip to content

Hadapi Ancaman Wabah Global, Rektor URINDO Tekankan Pentingnya Kewaspadaan Dini dan Surveilans Penyakit

Social Media Share

Rektor URINDO, Prof. Dr. Cicilia Windiyaningsih, berbagi pengalaman dan strategi kesiapsiagaan menghadapi pandemi di tengah situasi kesehatan global yang tidak menentu.(Foto: Ist)

JAKARTA, NP – Tantangan kesehatan ke depan kian kompleks seiring situasi nasional dan global yang tidak menentu serta kompetisi antarnegara yang semakin ketat. Kondisi ini menuntut adanya sistem kewaspadaan dini yang kuat terhadap penyakit infeksi menular, terutama untuk mengantisipasi kemunculan penyakit baru seperti pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.

Rektor Universitas Respati Indonesia (URINDO), Prof. Dr. Cicilia Windiyaningsih, SMIP, SKM, M.Kes, menegaskan pentingnya penguatan sistem surveilans dan manajemen risiko kesehatan nasional. Hal tersebut disampaikannya saat sesi diskusi di kantornya, Rabu (28/1/2026).

“Situasi global saat ini penuh ketidakpastian. Kita harus punya sistem kewaspadaan dini terhadap penyakit infeksi menular. Kalau ada penyakit baru, seperti Covid-19 dulu, kita sudah siap,” ujar Prof. Cicilia.

Ia mencontohkan munculnya kembali wabah Virus Nipah (Nipah Virus/NiV) di sejumlah negara seperti India dan Thailand yang perlu diwaspadai secara serius. Menurutnya, virus ini memiliki tingkat fatalitas tinggi dan berpotensi menimbulkan krisis kesehatan bila tidak diantisipasi sejak dini.

“Nipah itu berbahaya karena sifatnya agresif dan kemampuannya bermutasi. Fatality rate-nya tinggi untuk manusia. Karena itu perlu surveillance harian terhadap gejala, deteksi dini berbasis laboratorium, isolasi kasus positif, serta karantina kontak erat,” jelasnya.

Prof. Cicilia menekankan bahwa pembelajaran dari pandemi Covid-19 harus diimplementasikan secara sistematis, salah satunya melalui kurikulum manajemen risiko di bidang kesehatan dan kebencanaan. Kurikulum ini, menurutnya, penting untuk memastikan kesiapsiagaan tenaga kesehatan dan institusi pendidikan.

“Manajemen risiko harus diajarkan agar kita tidak lagi kekurangan sarana dan prasarana, seperti oksigen, ventilator, ruang isolasi, dan karantina. Semua harus prepared. Program studi ilmu kesehatan masyarakat wajib memasukkan ini sebagai bagian dari kesiapsiagaan,” tegasnya.

Ia menambahkan, kesiapan tersebut mencakup berbagai aspek input, mulai dari sumber daya manusia, pendanaan, standar operasional prosedur, pedoman teknis, regulasi, sistem digital, hingga ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi pembelajaran berharga saat ia terlibat langsung sebagai anggota Satuan Tugas Tracing Covid-19.

Prof. Cicilia Windiyaningsih: Waspada dini terhadap penyakit menular kunci kesiapsiagaan nasional. (Foto: Ist)

“Health security program harus fokus pada peningkatan resiliensi sistem kesehatan dan menurunkan risiko terjadinya wabah. Negara-negara seperti India, Mesir, dan Amerika Serikat sudah sangat siap dengan sistem ini,” katanya.

Prof. Cicilia juga menyoroti pentingnya surveilans penyakit menular berbasis laboratorium, baik sederhana maupun canggih, yang hingga kini dinilainya belum optimal di Indonesia.

“Semua infectious disease perlu early detection dan surveillance berbasis laboratorium. Saya berharap Kementerian Kesehatan benar-benar menerapkan monitoring dan evaluasi secara berkesinambungan,” ujarnya.

Ia menyebut sejumlah negara telah memiliki institusi surveilans yang kuat, seperti CDC di Atlanta dan Fort Collins, Amerika Serikat, termasuk fasilitas militer di Puerto Rico, India, dan Mesir. Bahkan China dinilainya sangat siap saat menghadapi pandemi Covid-19.

“Waktu Covid-19, China sangat prepared. Bahan dan alat diagnostik, sampai vaksin, bisa mereka siapkan dengan cepat. Riset mereka maju karena didukung penuh pemerintah,” ungkapnya.

Prof. Cicilia mengisahkan pengalamannya mengikuti pelatihan epidemiologi tingkat lanjut di Hangzhou, China, pada 2014. Saat itu, ia menyaksikan langsung bagaimana pemerintah China mampu membiayai penelitian longitudinal dengan responden mencapai jutaan orang.

“Mereka bisa melakukan penelitian longitudinal dengan responden lebih dari empat juta dan seluruh dananya ditanggung pemerintah. Itu luar biasa untuk pencegahan, pengobatan, bahkan mencegah kecacatan dan kematian,” katanya.

Universitas Respati Indonesia (URINDO) mencatatkan prestasi istimewa dengan meraih Rekor MURI sebagai sekolah lansia dengan jumlah wisudawan terbanyak, menegaskan komitmen perguruan tinggi ini dalam pendidikan sepanjang hayat. (Foto: Ist)

Dalam konteks vaksin, Prof. Cicilia menilai Indonesia sebenarnya telah memiliki modal awal melalui Forum Vaksin yang dibentuk Kementerian Kesehatan dan dipelopori Bio Farma. Namun, keberlanjutan forum tersebut terhenti setelah wafatnya sejumlah tokoh kunci akibat Covid-19.

“Forum vaksin itu sebenarnya bagus, tapi setelah beberapa tokoh penting wafat, termasuk peneliti Bio Farma, tidak terdengar lagi kelanjutannya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pengembangan vaksin nasional tidak bisa dilakukan secara mandiri sepenuhnya, melainkan harus melalui kolaborasi internasional.

“Kita tidak bisa berdiri sendiri. Reagen dan bahan baku belum bisa semuanya kita produksi. Kolaborasi itu pasti,” katanya.

Prof. Cicilia juga mengapresiasi gagasan Vaksin Merah Putih yang pernah digagas mantan Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto.

“Pak Terawan itu pintar dan tekun. Gagasan vaksin Merah Putih sangat bagus, tinggal bagaimana eksekusinya diperkuat secara kolaboratif,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Prof. Cicilia memiliki latar belakang panjang di bidang epidemiologi penyakit infeksi. Ia pernah bertugas sebagai PNS di Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, Kantor Kesehatan Pelabuhan Denpasar, serta Rumah Sakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, sebelum beralih menjadi akademisi dan kini menjabat sebagai Rektor Universitas Respati Indonesia.(Liu)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *