Press "Enter" to skip to content

Trump Bantah akan Kirim 120 Ribu Tentara Hadapi Iran

Social Media Share

WASHINGTON DC, NP – Presiden AS Donald Trump membantah sebuah laporan yang mengatakan, dia mempertimbangkan mengirim 120 ribu pasukan untuk menghadapi Iran. Tetapi dia tidak menepis kemungkinan pengerahan jauh lebih banyak pasukan di masa depan.

“Saya rasa itu berita palsu,” kata Trump tentang laporan New York Times bahwa Gedung Putih mempertimbangkan sebuah rencana untuk mengirim 120 ribu pasukan ke kawasan Timur Tengah.

Pentagon sudah mengerahkan sebuah kapal induk dan pesawat pembom ke kawasan itu dalam beberapa hari terakhir. Sedangkan misil Patriot serta sebuah kapal dok yang dilengkapi platform pendaratan sedang dalam perjalanan. Sistem Patriot melindungi dari pesawat terbang dan misil, sementara kapal dok itu bisa mengangkut marinir, pesawat terbang, atau hovercraft  atau kapal-kapal untuk membawa mereka ke pesisir pantai.

Hindari Ketegangan

Sementara itu Eropa mendesak semua pihak (AS dan Iran) agar menghindari ketegangan lebih lanjut. Amerika telah mengerahkan satuan unit tempur angkatan laut ke wilayah Timur Tengah, yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln. (foto)

Pesawat-pesawat pengebom B-52 juga telah tiba di pangkalan udara Amerika di Qatar, siap melawan apa yang dikatakan pemerintah Trump adalah “indikasi jelas” ancaman dari Iran terhadap pasukan Amerika.

Analis militer Jack Watling pada Royal United Services Institute yang berbasis di London mengatakan pengerahan itu bukanlah tidak biasa. Sejauh ini, menurutnya, belum ada perubahan besar-besaran dalam formasi pasukan Amerika di kawasan itu. Yang ada hanyalah perubahan yang sangat signifikan dalam pengiriman pesan, ditambah Amerika semakin menekan Iran secara ekonomi.

“Jadi pertanyaannya, bagaimana Iran membalas? Bagaimana mereka menunjukkan kepada Amerika bahwa jika kalian terus menekan, kami bisa merespon? Dan pada saat itu, jika mereka salah menanggapi, ada risiko eskalasi yang tidak terkendali,” kata Watling.

Baca Juga  Mereka Para Korban Penembakan di Masjid Selandia Baru

Eropa percaya bahwa risiko itu sangat tinggi, hal yang ditegaskan Menteri Luar Negeri Amerika Mike Pompeo ketika ia tiba di Brussels,  Senin untuk pembicaraan dengan kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini.

Kepada wartawan setelah pertemuan itu, Mogherini mengatakan, “Kita berada pada masa penting dan sulit di mana sikap yang paling pas – yang paling bertanggung jawab – untuk dilakukan, seharusnya adalah menahan diri semaksimal mungkin dan mencegah eskalasi pada sisi militer.”

Setahun lalu, Amerika keluar dari perjanjian nuklir dengan Iran tahun 2015. Hingga kini, Eropa mendesak Iran agar tetap mematuhi kesepakatan itu dan secara efektif menunggu sampai pemerintahan Trump berakhir, ujar analis Jack Watling.

Perketat Belitan Ekonomi

Sementara itu, Amerika terus memperketat belitannya terhadap ekonomi Iran. India adalah importir utama minyak Iran, tetapi menghentikan pembelian bulan ini setelah Amerika memperbarui sanksi.

Mengunjungi Delhi hari Selasa, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif ditanya tentang pengerahan militer Amerika di wilayah Teluk.

Ketakutan akan konflik mengguncang Eropa, yang terjebak di antara tuntutan sekutu, Amerika, untuk keluar dari kesepakatan nuklir itu dan peringatan dari Iran bahwa langkah seperti itu akan mengarahkan negara itu memulai kembali program nuklirnya.(VOA/her)