Press "Enter" to skip to content

Kesepakatan ITRC Dorong Link and Match Industri dan SMK

Social Media Share

JAKARTA, NP – Sinergi industry dengan sekolah menengah kejuruan (SMK) swasta Mulia Bakti di kota kecil, Purwokerto Jawa Tengah, dalam waktu dekat akan direalisasikan, yakni fabrikasi beberapa perangkat pengaturan lalu lintas terutama traffic cone dan water barrier.

Sinergi tersebut respons dari kesepakatan tiga negara penghasil karet yakni Indonesia, Thailand dan Malaysia yang tergabung dalam forum International Tripartite Rubber Council (ITRC). Isi kesepakatannya, ITRC akan membatasi ekspor karet sebanyak 240.000 ton. Sementara produksi dalam negeri Indonesia juga masih terus meningkat.

“Kita dorong pemanfaatan lain karet. Ada beberapa produksi dalam negeri dibuat dari karet, sehingga (stok karet) bisa terserap. Perusahaan bikin (produksi) traffic cone, water barrier di jalan-jalan (lalu lintas). Sementara, perusahaan akan buat dari karet dan model bahan plastic. Kalau traffic cone, water barrier dengan (bahan) semen, bahaya untuk pengguna kendaraan. Industri perlu pabrikan baru melalui skema kerjasama dengan SMK Mulia Bakti,” Ketua Yayasan SMK, Ibnu Sudjono mengatakan kepada Redaksi.

Traffic cone digunakan untuk mengarahkan lalu lintas untuk menghindari bagian jalan yang sedang ada perbaikan, mengalihkan lalu lintas pada kecelakaan lalu-lintas, atau untuk melindungi pekerja di jalan yang sedang melakukan pekerjaan perawatan dan pemeliharaan jalan.

Water barrier yakni pembatas jalan ketika ada pengalihan lalu lintas atau jalan alternative. Water barrier diisi dengan pasir, air sehingga kendaraan tidak bergeser ketika bersinggungan. “Pasar China menyerap banyak karet Indonesia. (kesepakatan ITRC), kita bisa mendongkrak harga karet untuk pasar China. Karena China juga impor karet dari Vietnam. Sementara serapan karet di dalam negeri sangat sedikit. Kerjasama SMK dengan perusahaan swasta, berupa fabrikasi traffic cone merupakan pertama kalinya. Walaupun SMK baru berdiri sekitar tiga tahun, kami sudah melangkah maju dengan kerjasama industry berbasis link and match,” tegas Ibnu yang juga managing director PT Cosmolab Prima di Purwokerto.

Baca Juga  Bom Bunuh Diri di Sri Lanka: Gereja Katolik Batalkan Semua Misa Minggu

Di tempat yang sama, Kepala SMK Slamet Sudiro optimis dengan rencana kerjasama industry untuk fabrikasi traffic cone. Keyakinan tersebut berdasar pada metode pembelajaran siswa SMK pemesinan, yakni 30 persen berupa teori dan 70 persen praktik. “Praktiknya, satu alat (pemesinan) untuk satu siswa. Kami juga batasi jumlah siswa,” Slamet mengatakan kepada redaksi.

Guru-guru juga yang sudah berpengalaman lulusan SMK Mikael & Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI St. Mikael) Solo, Jateng. Yayasan membangun SMK dengan kepedulian, yakni kepentingan pendidikan secara umum dan meningkatkan kualitas SDM warga Purwokerto. “Pendidikan di negara manapun selalu dinomorsatukan untuk pembangunan Bangsa. Sehingga SMK dibangun khususnya untuk anak anak kami di Banyumas, Purwokerto dan sekitarnya,” kata Slamet yang dulunya menjabat kepala dinas di kabupaten Purwokerto.

Para orangtua murid dibebaskan dari biaya, sumbangan uang gedung sekolah. Kendatipun Ibnu Sudjono sebagai ketua Yayasan sudah mengeluarkan biaya pembangunan gedung saja, senilai Rp 25 milyar. Pembelian alat pemesinan, harganya Rp 600 juta per unit. Keseluruhan, Yayasan menyediakan 14 peralatan mesin untuk 14 siswa. Yayasan tidak berpikir titik impas dari pengelolaan sekolah. “Kalau kami tidak concern dengan pendidikan, satu alat (mesin) untuk 10 siswa. Tapi konsekuensinya, tidak ada kemajuan untuk siswa,” tegas Slamet.(red)

Comments are closed.