Press "Enter" to skip to content

30 April 44 Tahun Lalu : Saigon Jatuh

Social Media Share

Oleh : Heru Subroto

Saigon Jatuh. Itulah judul berita headline Harian Merdeka terbitan 1 Mei 1975, yang memanjang 9 kolom. Waktu itu saya baru enam bulan sebagai wartawan Merdeka. Saigon adalah ibu kota Vietnam Selatan. Perang Vietnam (orang Vietnam menyebut Perang Amerika) berawal pada 1957. Intinya Ameika Serikat bersama bonekanya bertekuk lutu begitu Saigon berhsil direbut oleh para pejuang Vietnam..

Pasukan di bawah Ho Chi Minh (di era Bung  Karno, kita sapa dengan Paman Ho), kemudian menguasai negeri ini dan dipesatukan dengan Vietnam Utara. Lahirlah negara Republik Sosialis Vietnam dengan ibu kota Hanoi, di utara. Kemudian dalam perkembangannya Saigon diubah menjadi Ho Chi Minh City.

Pada Oktober 2003, pesawat Garuda Indonesia mendarat di Bandara Internasional Tan Son Nhat di Ho Chi Monh City. Waktu itu bandara ini lebih luas dibandingkan dengan yang berada di Hanoi, ibu kota Vietnam.

Waktu itu saya, mewakili Harian Media Indonesia, (belum di narasipos.com); diundang oleh Garuda Indonesia untuk menikmati penerbangan perdana Jakarta-Ho Chi Minh City.

Singkat kisah, siang hari rombongan Garuda Indonesia mendarat dengan semalat di Bandara Tan Son Nhat. Seperti biasa layaknya penerbangan internasional, konter imigrasi menjadi tujuan pertama.

Tak disangka, begitu kami menyebut dari Indonesia, petugas Imigrasi Vietnam, nampak ’terkejut’. ”Ha.. Indonesia? Soekarno is good,” tuturnya tertawa seraya mengulurkan  tangan untuk berjabat.

Tak saya sangka pula, petugas imigrasi pun membuka konter khusus bagi  rombongan dari Indonesia.

“Yes, Soekarno is Uncle Ho’s best friend,” kata saya.“Ooo yeah. yes ..Welcome to Vietnam. Enjoy our friendship,” jawabnya.Dan kami pun mulus meninggalkan pintu imigrasi, tapa harus antre berkepanjangan.Rombongan kami ada sekitar 20 orang. Kami lanngung menuju ke Sherwood Hotel 127 Pasteur Street, District 3, Ward 6, District 3, Ho Chi Minh City. Atau New World, saya lupa.

Di hotel ini pula dilakukan upacara penandatanganan kerja sama antara Garuda Indonesia dengan pemerintah Vietnam. Dubes RI untuk Vietnam tidak bisa hadir dan diwakili Sekretaris 1 Kedubes RI. Lupa namanya. Malkum sudah lama.Oye. Beberapa hari di Ho Chin Minh, romboingan diajak menikmati objek-objek wisata di negerinya Paman Ho. Antara lain ke Chu Chi, bekas padang perang layaknya padang Kuru Kasetra dalam kisah pewayangan Epos Mahabarata, kekawin Perang Barata Yudha, karya Empu Sedah pada jaman Kerajaan Kediri.

Baca Juga  Saudi Klaim Dua Kapal Tankernya Rusak 'Disabotase': Iran 'Sayangkan' Insiden

Kami disuguhi bangkai-bangkai tank maupun pesawat milik tentara Amerika yang berhasil digepuk maupun dirontokkan oleh Tentara Pembebasan Vietnam. Pihak Amerika dan Vietnam Selatan menyebutnya gerilyawan Vietcong.Bukan itu saja, peralatan-peralatan untuk ‘menyiksa’ tentara Vietnam juga tertata di situ.

Demikian halnya ’pabrik senjata’ milik Vietcong. Pemandu wisata, sebut saja Nguyen; menyebutkan gerilyawan Vietnam ’senang’ kalau pesawat-pesawat pembom Amerika ’menghujani’ bom ke darat.Saya pun agak terkejut. Kenapa?

Ternyata tidak semua bom tersebut meledak. Itu artinya Amerika ’mengirim bahan baku senjata’ untuk gerilyawan Vietnam. Gratis.Ratusan bom yang mejen tersebut dengan sangat hati-hati dibongkar untuk memisahkan bahan peledak dengan ’pembungkusnya’. Dari sinilah  logam-logam tersebut menjadi senjata serbu ala Vietkong.

Hlo, di mana bikinnya? Ya di sekitar itu. Areal ini memang tidak nampak ada kegiatan. Tetapi di bawah permukaan tanah, jangan tanya. Ohhhh… di situ ada pabrik senjata, ada dapur umum yang harus ’mberesin’ ribuan gerilyawan. Juga rumah sakit yang merawat ratusan orang luka lengkap dengan fasilitas operasi berat bagi tentara yang luka.

Di situ juga ada ruangan rapat khusus untuk pertemuan para pimpinan gerilyawan. Kira-kira bisa ada 20 kursi melingkari meja lonjong. Bendera  Vietkong pun menempel di atas kursi pimpinan rapat.Jadi bisa Anda bayangkan betapa luasnya ruang yang berada di sekitar lima meter bawah tanah ini. Pesawat yang ditembak jatuh, bannya juga sangat bermanfaat.

Gerilyawan menyulap menjadi sepatu sandal. Jadi Amerika juga membantu musuhnya dengan mengirim bahan baku alas kaki.  Lobang untuk menghubungkan ke alam bebas, cuma seluas ukuran badan orang dewasa. Itulah makanya orang-orang Vietnam fostur tubuhnya langsing-langsing.

Oh, ya. Di sinilah salah satu taktik yang dijalankan, sehingga tentara Amerika sulit menangkap gerilyawan. Di medan perang itu banyak lobang-lobang untuk ’pintu’ masuk ke dalam tanah. Di dunia wayang gerilayawan Vietnam seperti halnya Raden Antareja, kestaria Pandawa, anak Bimasena, yang mampu ’ambles bumi’.

Lobang segi empat itu ukurannya hanya ’sebesar’ tubuh manusia langsing (foto). Gerilayan tahu persis letak pintu untuk ambles tesebut, karena sudah ditandai dengan sangat rahasia.Tak heran bila tentara Amerika menggempur, tiba-tiba gerilawan menghilang bagai ditelan bumi.

Memang benar. Begitu dikejar, mereka membuka ’pintu’ yang dirahasikan dengan kamuflase dedaunan. Meski di depan pintu ada tentara Amerika, mereka belum tentu tahu bahwa di situ ada pintu rahasia. Mereka hanya bisa membuang peluru dengan rentetan berondongan tembakan tanpa sasaran jelas.

Baca Juga  Pemilu di Israel: Bila Menang, Netanyahu akan Aneksasi Permukiman di Tepi Barat

Rahasia Asap Dapur Tak Terdeteksi

Kenapa asap dapur umum tidak bisa dideteksi? Rahasianya, asap dikeluarkan lewat pipa-pipa kecil, sehingga hampir tidak nampak dari permukaan tanah. Jadi ada ratusan, bakan ribuan lobang sebesar ibu jari yang tersebar sangat luas.Sayang sekali waktu menulis artikel ini, foto-foto dokumennya, saya cari enggak ketemu.

Maklum dadakan. Untuk keluar masuk dibuat undakan (trap). Bila masuk seperti jalan mudur, demikian sebaliknya, posisi wajah melihat ke pintu lobang.

Sarang GerilayawanKami pun diajak ke bekas medan untuk melihat taktik pertahanan gerilyawan menghadapi gempuran udara, maupun darat dengan pasukan infanteri dam manirir Amerika. Dibuatkan selokan ratusan meter sebagai salah satu taktik perang gerilya.

Para jenderal Vietnam mengakui bahwa taktik perang gerilya ternyata dipelajari d ari Indonesia. Perang  gerilya kita waktu menghadapi pasukan Sekutu maupun Nica jaman Perang Kemerdekaan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, diterapkan oleh jenderal-jenderal Vietnam.

Mereka ternyata berlajar dari buku karangan Jenderal TNI AH Haris Nasution, kalau enggak salah intinya menggambarkan taktik perang geriya dan sitem pertahanan rakyat semesta. Anehnya, taktik perang gerilya ini juga dipelajari oleh para jenderal Angkatan Darat Amerika untuk menghadapi geriyawan Vietnam. Hebat kan, kita? Yang unggul ternyata pihak Vietnam.Bukan hanya itu.

Di objek wisata ini juga disajikan senjata-senjata tradisional untuk menghadapi pasukan Amika dn sekutunya. Untuk lebih jelasnya Anda saya persilahkan membuka literatur yang menyangkut Perang Vietnam. Sangat panjang andai dikisahkan di sini.

Di objek wisata ini pula sengaja diwarnai dengan rentetan letusan senjata. Memang ada lapangan khusus yang dipergunakan untuk menembak. Tentu saja suaranya lebih ‘menghidupkan’ suasana. Suara deru pesawat maupun dentuman bom pun sesekali terdengar menggelegar. Bener-benar bagai suasana perang.

Dalam perjalanan mengitari arena, kami juga sering berhenti di pos-pos tertentu, yang menggambarkan titik-titik para geiryawan melakukan konsolidasi. Dan … di situ dijadikan camilan seadanya, persis seperti jaman perang. Ada singkong maupun pisang rebus, dan juga air bening untuk minum.

Karena suasana hutan, kami tidak terlalu kelelahan. Sejuk, eyup, kata orang Jawa.Ketika pulang kami sengaja diajak melewati tempat-tempat penjualan suvenir. Saya membeli ‘kalung leher’ semacam selendang dengan bahan tenun sangat sederhana. Waktu itu harga 5.000 uang Vietnam (Dong), kursnya waktu itu sama dengan rupiah kita. Switer inilah yang selalu melingkar leher para gerilyawan. Warnanya hitam dan putih, seperti kain khas sobat-sobat kita di Bali.

Baca Juga  Gara-gara Trump: Iran Batalkan Beberapa Komitmen Kesepakatan Nuklir 2015

Satu lagi. Di tempat penjualan suvenir ini juga dijajakan ‘obat kuat’ berupa botol yang di dalamnya terdapat ular kobra. Ukuran botol disesuaikan dengan besarnya ular kobra, yang dicampur dengan alkohol atau minuman keras.

Saya sampai hari ini (30/4) masih menyimpan botol paling kecil, berisi anak kobra. Harga botol paling kecil 25.000 Dong Vietnam. Kursnya sekarang satu Dong sama dengan 0,61 Rupiah.Tapi saking lamanya, enggak bisa dibuka lagi. Isinya tinggal setengah botol.

Kami juga mengunjungi Balai Kota Ho Chi Minh. Di depannya terpampang patung Paman Ho.

Untuk belanja, kami diarahkan ke Benh Tam Market. Pasar yang berganti wujud saat siang dan malam hari ini menarik untuk dikunjungi sore hari. Aktivitas para pedagang yang berganti shift secara teratur dan tertib menarik untuk dinikmati.

Saya membeli T-shirt warna merah ‘revolusioner’ dengan bintang lima warna kuning di tengahnya. Juga ‘patung-patung’ mini segede pensil, panjangya sekitar 7 sentimeter. Patung ini menggambarkan kehidpan petani Vietnam.

Pada malam hari sempat dijamu di restoran terapung, dan kapal ini sempat pula ‘berlayar’ menyusur Sungai Mekong. Di Delta Mekong ini menjadi lahan pertanian padi. Sebagian dari kita pasti pernah menikmati nasi dari beras Vietnam.

Si pemandu wisata pun berseloroh. “Kami ekspor beras ke Indonesia biar rakyat Indonesia gemuk-gemuk…. dan kami di Vietnam banyak makan buah. Makanya kami langsing-langsing. Kalau enggak langsing enggak mengalahkan tentara Ameika,” katanya.

Sebelumnya, di salah satu rertoran kami sengaja dipesankan menu ‘kelapa bakar’. Kelapa muda, setelah dikupas serabutnya, ditaruh di piring kaleng. Kemudian diguyur dengan spirtus dan dibakar. Begitu api padam, kelapa hijau dibakar sekali lagi, baru dipecah. Rasanya? Silakan coba sendiri di rumah.

Tapi sekarang saya berpikir. Akhir-akhir ini kapal-kapal penangkap ikan ilegal dari Vietnam sering ’mencuri’ ikan di perairan Indonesia. Jengkel pasti. “Tenggelamkan,” perintah bu Susi. ***