Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meninjau pasar Wonokromo, Surabaya, memastikan ketersediaan telur ayam ras nasional aman dan stok mencukupi. (Foto: Ist)
JAKARTA, NP – Komoditas telur ayam ras sebagai salah satu sumber protein hewani favorit masyarakat dipastikan tersedia dalam jumlah mencukupi. Kebutuhan konsumsi telur secara nasional hingga kini sepenuhnya dapat ditopang oleh produksi peternak dalam negeri.
Berdasarkan proyeksi Badan Pangan Nasional (Bapanas), ketersediaan telur ayam ras masih aman dan mencukupi hingga momen Lebaran mendatang. Kondisi ini ditopang oleh surplus produksi dalam negeri yang relatif besar.
Fluktuasi harga telur ayam ras yang terjadi belakangan dinilai lebih bersifat musiman dan tidak berkaitan langsung dengan program prioritas Presiden Prabowo Subianto, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG). Pengaruh MBG terhadap peningkatan konsumsi telur ayam ras pada tahun ini juga masih belum signifikan.
“Stok telur kita secara nasional banyak. Intinya sangat memenuhi kebutuhan nasional. Lewat Ramadan juga aman karena kita surplus. Jadi tidak ada masalah untuk telur,” ujar Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, di Jakarta, dalam keterangan tertulis, Kamis (25/12/2024).
Ia menambahkan, menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) biasanya terjadi peningkatan permintaan yang turut mendorong kenaikan harga. “Kalau program MBG ada pengaruhnya, tetapi kecil. Saat ini yang dominan karena faktor musiman,” ujarnya.
Dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional yang diperbarui setiap bulan, pemerintah memastikan kebutuhan nasional telur ayam ras—termasuk untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program MBG—sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Dari total konsumsi nasional, porsi kebutuhan SPPG masih relatif kecil.
Kebutuhan konsumsi telur ayam ras sepanjang 2025 diperkirakan mencapai 6,487 juta ton. Dari jumlah tersebut, kebutuhan SPPG diproyeksikan sekitar 1,96 persen atau setara 127,3 ribu ton. Sementara itu, produksi telur ayam ras nasional diperkirakan mencapai 6,561 juta ton per tahun.
Stok akhir telur ayam ras nasional pada akhir 2025 juga diproyeksikan meningkat signifikan. Bapanas memperkirakan stok akhir tahun dapat mencapai 74,5 ribu ton, melonjak sekitar 154,2 persen dibandingkan stok akhir 2024 yang tercatat sebesar 29,3 ribu ton.
Meski demikian, pemerintah tetap akan memantau pergerakan harga telur ayam ras di pasaran. Harga di tingkat konsumen diharapkan berada sesuai Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 30.000 per kilogram.
“Secara prinsip kami sudah sering rapat dengan para peternak. Mereka berkomitmen menjaga harga di tingkat peternak pada kisaran Rp 22.000 sampai Rp 25.000 per kilogram. Dengan demikian, pedagang seharusnya masih bisa menjual di angka Rp 30.000,” kata Ketut.
Berdasarkan Panel Harga Pangan Bapanas, rata-rata harga telur ayam ras di tingkat konsumen secara nasional mulai menunjukkan penurunan tipis dalam sepekan terakhir. Pemerintah akan mengintensifkan pengawasan agar harga telur kembali ke level yang wajar.
Per 24 Desember 2024, rata-rata harga telur ayam ras tercatat Rp 31.595 per kilogram, turun dibandingkan sepekan sebelumnya sebesar Rp 31.671 per kilogram. Provinsi dengan rata-rata harga terendah adalah Bali, yakni Rp 27.635 per kilogram atau sekitar 7,8 persen di bawah HAP.
Kenaikan harga telur ayam ras di atas HAP secara nasional mulai terjadi sejak Oktober 2024, ketika rata-rata harga bulanan mencapai Rp 30.436 per kilogram. Sebelumnya, sejak Januari 2024, harga telur ayam ras tercatat konsisten berada di bawah HAP.
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengingatkan jajarannya agar tidak lengah dalam memantau dinamika harga telur ayam ras yang merupakan komoditas pangan strategis.
“Telur alhamdulillah stoknya baik, tetapi kita tidak boleh lengah. Telur cukup, dan tidak boleh naik. Kalau naik, kita tindak. Ini karena stok kita lebih dari cukup, jadi aman,” tegas Amran saat meninjau Pasar Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur, Senin (23/12/2024). (red)







Be First to Comment