Press "Enter" to skip to content

Kerjasama DJPEN, Anhui Diarahkan pada UKM

Social Media Share

JAKARTA, NP – Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (DJPEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) melihat peluang kerjasama program pelatihan dengan lembaga ataupun pemerintahan termasuk China, Jepang, lebih diarahkan pada UKM (usaha kecil menengah) dan penetrasi pasar ekspor. DJPEN dan mitra kerjasama biasanya mendiskusikan terlebih dahulu produk ataupun jasa pelatihan serta konsultasi. “Kami telaah dulu kebutuhan (pelatihan) seperti apa. Setelah itu, kita menandatangani LoI (Letter of Intent). Tahap selanjutnya, kita masuk (penandatangan) MoU (Memorandum of Understanding). Prosedurnya seperti itu,” kata Kepala Bagian Hukum dan Pelaporan DJPEN Nino Wawan Setiawan kepada Redaksi di Jakarta, (18/11)

Penjajakan kerjasama DJPEN dengan Biro Perdagangan Provinsi Anhui, China dibahas pada pertemuan yang berlangsung di Gedung Kemendag, Gambir Jakarta Pusat. Delegasi Anhui terdiri dari Chen Haiming (Direktur), Ji Zhaohui (deputy Counsellor Foreign Trade Administrative Division), Su Jing Ru dan Lincoln Ding. “Kami biasanya mengambil contoh (kerjasama), sambil mengidentifikasi apa potensi Anhui. Kami tidak bahas (produk kerjasama) seperti batubara, kelapa sawit, karena itu (usaha) pemain besar,” tegas Nino.

Skema kerjasama yang selama ini sudah berjalan efektif, salah satunya dengan Japan International Cooperation Agency (JICA). Selain itu, jalinan kerjasama DJPEN juga berlangsung dengan AusAid Australia, CBI Belanda. Semua program kerjasama bertumpu pada penciptaan ekspor baru yang handal. Selain itu, pelatihan diharapkan bisa mendorong kapasitas UKM Indonesia untuk penetrasi pasar luar negeri. “Misalkan produk fashion. Awalnya, salah seorang desainer Indonesia membuat produk fashion dalam jumlah satuan atau piece. Tapi ketika ikut pameran, dia temu investor. Mereka nego dan sepakat untuk jual (ekspor) masal (jumlah besar). Karena provider yang ditemui desainer Indonesia tersebut juga menyanggupi. Fashion hanya salah satu contoh. Bisa saja, kita ajukan program kerjasama pelatihan sarang burung walet, terutama packaging (kemasan). Karena sarang burung walet asal Indonesia juga semakin diserap pasar China,” kata Nino.

Baca Juga  Bertemu Nelayan di Sukabumi, Menko Luhut Janjikan Perbaikan Dermaga dan Pelatihan Budidaya Lobster

Sementara itu, Chen Haiming menilai penjajakan kerjasama tidak hanya bertumpu pada kualitas tapi juga management. Tekstil dan produk tekstil juga membutuhkan SDM (sumber daya manusia) dengan keahlian seperti operasional, keuangan, perhitungan bisnis dan lain sebagainya. “Kalau kerjasama bisa berlangsung, ini merupakan terobosan bagi Anhui dan Kementerian Perdagangan,” kata Chen Haiming

Produk tekstil dan fashion bisa dikerjasamakan, misalkan dibarengi dengan penjualan custom merchandise. Ada marketplace (tempat penjualan) dimana pelaku usaha bisa memasarkan produk produk khusus dan spesial dengan jumlah terbatas. “UKM Indonesia bisa saja berinovasi bisnis, misalkan pembuatan barang terbatas untuk 50 orang (pelanggan). Seperti produk fashion adibusana (pakaian tingkat tinggi yang dibuat khusus untuk pemesannya) UKM Indonesia, sangat mungkin dipasarkan dengan sistem custom,” kata Chen Haiming.(rls)