Press "Enter" to skip to content

Keberadaan Geopark Wajib Mengangkat Potensi Wilayah dan Menyejahterakan Masyarakat

Social Media Share

BALI, NP – Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, melalui Deputi Bidang Koordinasi SDM, IPTEK dan Budaya Maritim, Safri Burhanuddin menyatakan, pertemuan dalam rangka Sosialiasi Perpres Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pengembangan Taman Bumi (Geopark), dihelat di Bali pada Jumat (05-07-2019) dan dihadiri oleh seluruh pemangku kepentingan geopark ini diharapkan bisa menjadi bagian pengembangan geopark secara menyeluruh di Indonesia.

“Keberadaan geopark di Indonesia harus mampu memaksimalkan potensi. Salah satunya adalah mampu menekan angka kemiskinan warga lokal,” ujarnya dikutip dari siaran pers yang diterima redaksi..

Deputi Safri juga menyampaikan jika sudah masuk Geopark, tentu yang akan dilakukan adalah penataan yang dimulai dari akses, informasinya, guidenya, sehingga orang akan merasa nyaman dengan fasilitasnya.

Sebagai contoh, lanjut Deputi Safri, ialah Taman Bumi Geopark Gunung Sewu yang mengalami peningkatan jumlah pengunjung dan penghasilan rata-rata hingga 1000 persen dalam 4 sampai 5 tahun semenjak mendapatkan predikat UNESCO Global Geopark.

“Di Gunung Sewu itu kenaikannya sudah 400 persen perkali lipat dari pertamanya. Penghasilannya dari 85 miliar sampai 1 triliun lebih. Ini artinya bahwa kenaikan itu sampai 100 ribu lebih dari 400-500 persen pertahun,” jelasnya.

Adapun, sosialisasi ini mengundang seluruh perwakilan Pemerintah Daerah yang telah mempunyai geopark, maupun berpotensi untuk dikembangkan menjadi geopark di wilayah Jawa, Kalimantan, dan Bali. Dan, penyelenggara kegiatan ini adalah Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral yang bekerja sama dengan Komite Nasional Geopark Indonesia.

“Kegiatan ini sebagai upaya mendukung pembangunan perekonomian masyarakat melalui destinasi pariwisata secara berkelanjutan,” tambah Deputi Safri.

Ke depan pengembangan geopark menjadi alternatif pengembangan yang seksi. Karena diketahui bahwa, saat ini pengembangan kawasan menjadi sebuah konsep yang komprehensif dimiliki oleh geopark. Geopark tidak hanya berfokus pada pengelolaan warisan geologi akan tetapi memadukan 2 (dua) faktor lainnya yaitu warisan budaya dan keanekaragaman hayati.

Baca Juga  Beberkan Capaian Kinerja, Ditjen PSP Fokus Dukung Empat Sub Sektor Komoditas Pertanian

Kemudian, Geopark juga mampu menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan karena dalam pengembangan geopark sudah mencakup pemenuhan 9 (sembilan) target dalam pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals).

Bersamaan dalam sosialisasi ini juga diadakan penandatangan perjanjian kerja sama 2 (dua) geopark Indonesia yaitu, Geopark Nasional Belitong dan Kaldera Toba dengan 4 (empat) UNESCO Global Geopark yang ada di Indonesia (Rinjani, Batur, Gunung Sewu dan Ciletuh-Palabuhan Ratu).

Kerja sama ini sesuai dengan salah satu dari empat fokus pengembangan geopark berkaitan dengan jejaring geopark regional dan global. Diharapkan dengan kerja sama ini mampu mendorong akselerasi 2 (dua) geopark nasional yang saat ini sedang diproses pengajuannya di UNESCO.

Geopark Indonesia, tahun ini juga dipercaya menjadi tuan rumah pertemuan dan simposium ke-6 Asia Pacific Geopark Networks (APGN) Indonesia pada tanggal 31 Agustus – 6 September yang akan berlangsung di Rinjani UNESCO Global Geopark, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Simposium ini akan dihadiri kurang lebih 1000 peserta dari Asia Pacific yang akan membahas perkembangan geopark di negaranya masing-masing. Untuk itu sosialisasi Perpres Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pengembangan Taman Bumi (Geopark) ini juga dijadikan ajang pemanasan menuju tuan rumah simposium APGN dengan menggelar beberap stand geopark Indonesia dan stand promosi kegiatan APGN.(red)