Widhi lamong. foto dok. Pribadi.
Jakarta, NP – Single terbarunya berjudul “Kongkalikong” dirilis sebagai respons atas maraknya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang dinilai semakin mengakar dan merusak tatanan demokrasi di Indonesia. Musisi solo Widhi Lamong kembali menegaskan posisinya sebagai penyampai kritik sosial lewat karya musik.
Lewat lirik yang lugas dan nada pop rock yang tegas, “Kongkalikong” menggambarkan persengkokolan antara penguasa, pengusaha, dan aktor politik yang bermain di balik layar demi kepentingan kelompok tertentu. Lagu ini menjadi potret kegelisahan Widhi terhadap realitas politik yang sarat pencitraan dan jauh dari kepentingan rakyat.
Widhi Lamong, atau yang memiliki nama lengkap Suharjanto Widhi, dikenal konsisten mengangkat isu sosial dan politik dalam karya-karyanya. Lahir di Lamongan pada 2 Mei 1979, ia telah mengenal dunia musik sejak remaja dan menjadikannya medium ekspresi kritik yang terus relevan hingga kini.
Perjalanan bermusiknya dimulai sejak bangku SMP sebagai vokalis band sekolah, lalu berlanjut saat menempuh pendidikan di FISIP Universitas Airlangga Surabaya. Di masa kuliah, Widhi mendirikan Metal Jowo Band yang cukup dikenal di skena musik Surabaya dengan karakter kritik sosial yang kuat.
Seiring berjalannya waktu, aktivitas personel yang terpencar membuat Metal Jowo Band vakum. Kondisi tersebut mendorong Widhi memilih jalur solo agar lebih leluasa berekspresi dan menyuarakan kegelisahan sosial tanpa kompromi.
Dalam “Kongkalikong”, Widhi menyoroti fenomena oligarki, dinasti kekuasaan, politik uang, hingga praktik pencitraan pejabat yang menurutnya hanya berisi janji dan omong kosong. Kritik tersebut disampaikan tanpa metafora berlebihan, menjadikan lagu ini terasa langsung dan mudah dipahami.
Inspirasi lagu ini tak lepas dari latar belakang Widhi sebagai aktivis sejak masa reformasi. Hingga kini, ia aktif di berbagai gerakan sosial, politik, seni budaya, dan UMKM, yang memperkaya sudut pandangnya dalam menciptakan lagu-lagu bertema perlawanan.
Melalui “Kongkalikong”, Widhi Lamong berharap musik tetap menjadi ruang refleksi dan keberanian bersuara. Ia ingin karya ini tidak hanya didengar, tetapi juga menggugah kesadaran publik akan pentingnya kejujuran dan keberpihakan pada kepentingan rakyat. (Wepe)







Be First to Comment