Press "Enter" to skip to content

KPB–UBK Gelar Preview Film “Suamiku, Lukaku”, Dorong Kesadaran Hentikan KDRT

Social Media Share

Para narasumber menyampaikan pandangan dalam diskusi edukasi bertema “Kenali KDRT, Ajakan Berhenti Diam melalui Preview Film Suamiku, Lukaku” di Aula Dr. Ir. Soekarno, Universitas Bung Karno, Jakarta, Kamis (8/1/2026). (Foto: Ist)

JAKARTA, SP – Komunitas Perempuan Berkebaya (KPB) berkolaborasi dengan Universitas Bung Karno (UBK) bersama SinemArt, Tarantella Pictures, The Big Pictures, dan Women’s Crisis Center (WCC) Puantara menggelar preview film Suamiku, Lukaku disertai diskusi edukasi mengenai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Diskusi bertema “Kenali KDRT, Ajakan Berhenti Diam melalui Preview Film Suamiku, Lukaku” tersebut berlangsung di Aula Dr. Ir. Soekarno, UBK Jakarta. Sejumlah narasumber hadir, antara lain Ketua Komnas Perempuan Dr. Maria Ulfah Anshor, M.Si., Produser Eksekutif dan CEO SinemArt David S. Suwarto, Direktur WCC Puantara Siti Husna Lebby Amin, S.H., M.H., serta aktris Mieke Amalia dan komedian Chika Waode.

Rektor UBK Dr. Ir. Sri Mumpuni Ngesti Rahaju, M.Si. mengapresiasi kolaborasi lintas lembaga tersebut dalam upaya edukasi publik terkait KDRT melalui medium film.

“Melalui film Suamiku, Lukaku, kita diajak melihat realitas KDRT secara lebih jujur dan empatik. Film bukan sekadar tontonan, tetapi juga media refleksi, edukasi, dan advokasi yang mampu menggugah kesadaran,” ujar Sri Mumpuni dalam siaran pers, Senin (12/1/2026).

Peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, dan alumni Universitas Bung Karno tampak antusias menyimak diskusi edukasi KDRT yang digelar usai pemutaran preview film Suamiku, Lukaku di Jakarta, Kamis (8/1/2026).(Foto: Ist)

Ia menekankan pentingnya diskusi pascapemutaran film agar pesan yang disampaikan tidak berhenti pada empati, tetapi berlanjut pada keberanian bersuara, penanganan hukum, serta keberpihakan kepada korban.

Kegiatan yang dihadiri mahasiswa, dosen, dan alumni UBK tersebut dinilai sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang diwariskan Proklamator sekaligus Presiden pertama RI, Soekarno.

Ketua Komnas Perempuan Dr. Maria Ulfah Anshor menyatakan film Suamiku, Lukaku merefleksikan realitas KDRT di Indonesia, yang hingga kini masih menjadi bentuk kekerasan terhadap perempuan paling dominan, termasuk kekerasan seksual dalam perkawinan.

Peserta antusias bertanya dalam sesi diskusi edukasi KDRT usai preview film Suamiku, Lukaku di Universitas Bung Karno, Jakarta, Kamis (8/1/2026).(Foto: Ist)

“Film ini membuka sesuatu yang selama ini dianggap aib dan memalukan. Justru di situlah pentingnya pendidikan publik bahwa kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga harus dihentikan,” katanya.

Maria Ulfah mengungkapkan, setiap tahun Komnas Perempuan menerima rata-rata sekitar 4.600 laporan kekerasan terhadap perempuan. Faktor utama penyebabnya adalah ideologi patriarki yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat.

“Faktor ekonomi dan sosial ada, tetapi yang paling mendasar adalah budaya patriarki yang dampaknya selalu merugikan pihak yang lemah,” ujarnya.

Ia menambahkan, Indonesia telah memiliki payung hukum yang memungkinkan korban KDRT mengajukan gugatan cerai dan memperoleh perlindungan hukum.

Sementara itu, Produser Eksekutif dan CEO SinemArt David S. Suwarto mengatakan pihaknya memutuskan mengangkat isu KDRT ke layar lebar karena film memiliki kekuatan membangun empati dan mendorong perubahan sosial.

“Kami berharap film ini dapat memecah kesunyian, agar para penyintas KDRT berani mencari solusi dan tidak ada lagi korban berikutnya,” ujarnya.

Aktris Mieke Amalia dalam diskusi mengungkapkan dirinya pernah menjadi korban KDRT dan sempat tidak berani berbicara. Pengalaman pribadi tersebut, menurutnya, banyak tergambar dalam film Suamiku, Lukaku.

Perwakilan Komunitas Perempuan Berkebaya, Universitas Bung Karno, SinemArt, serta para narasumber berfoto bersama usai diskusi edukasi KDRT dan preview film Suamiku, Lukaku di Jakarta, Kamis (8/1/2026). (Foto:Ist)

“Keberanian untuk keluar dari situasi itu muncul setelah saya berkonsultasi dengan psikolog. Perempuan harus mandiri dan tidak terburu-buru menikah,” katanya.

Hal senada disampaikan komedian Chika Waode yang mengaku pernah mengalami KDRT psikis. Ia memilih segera mengakhiri pernikahan karena khawatir kekerasan akan berlanjut.

“Perempuan sebaiknya punya penghasilan sendiri dan tidak menyerahkan seluruh hidupnya pada pasangan,” ujarnya.

Direktur WCC Puantara Siti Husna Lebby Amin menjelaskan, meski banyak perempuan telah berani menggugat cerai, KDRT sering kali belum dijadikan alasan utama dalam gugatan, melainkan dicantumkan sebagai perselisihan berkepanjangan.

“Kebanyakan kasus berakhir di pengadilan agama dan jarang masuk ke ranah kepolisian, padahal hukum di Indonesia melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga,” katanya, seraya mendorong korban untuk mencari bantuan psikolog atau lembaga layanan seperti WCC Puantara.

Ketua KPB Lia Nathalia berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran publik mengenai KDRT.

“Kita harus berhenti menormalisasi KDRT, berhenti diam, berani bersuara, dan saling mendukung di tengah masyarakat,” ujarnya. (red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *