Oleh: Danang R, H.A
Kepala Program Studi Rekayasa Pertahanan Siber FTTP, Universitas Pertahanan RI
LEDAKAN pemanfaatan kecerdasan buatan dalam kejahatan siber seharusnya menjadi alarm keras: pendekatan keamanan digital konvensional tidak lagi memadai. Kita hidup dalam paradoks teknologi: semakin cerdas sistem yang kita bangun, semakin canggih pula cara sistem itu disalahgunakan. Masalahnya bukan semata pada AI, tetapi pada kesiapan manusia, organisasi, dan negara dalam mengelolanya.
Selama bertahun-tahun, keamanan siber dipandang sebagai isu teknis—server, firewall, pusat data. Kini paradigma itu runtuh. Serangan berbasis AI telah bergeser ke ranah kognitif, sosial, dan strategis. Phishing bukan lagi sekadar kesalahan ketik, tetapi dirancang secara psikologis. Deepfake telah menjadi alat penipuan efektif, sementara ransomware memilih target bernilai secara rasional. Di titik ini, AI bertindak sebagai pengganda daya kejahatan siber.
Regulasi yang Selalu Satu Langkah di Belakang
Respons kebijakan hampir selalu tertinggal. Rencana pembentukan Undang-Undang Keamanan dan Ketahanan Siber patut diapresiasi, tetapi tidak boleh berhenti pada prosedur administratif—pelaporan insiden atau kepatuhan formal. Tanpa visi strategis, regulasi akan tetap reaktif, sibuk menambal setelah kerusakan terjadi.
Pengalaman global menunjukkan hal ini: Uni Eropa masih bergulat dengan implementasi AI Act, sementara Amerika Serikat mengandalkan kesiapan industri yang tidak merata. Di ASEAN, kesenjangan kapasitas antarnegara membuka celah bagi pelaku lintas batas. Indonesia berada pada persimpangan: menjadi pasar teknologi keamanan, atau membangun kapasitas nasional yang mandiri dari sisi kebijakan, SDM, dan inovasi.
Industri: Antara Investasi dan Ketergantungan
Bagi industri, AI defensif sering dipandang sebagai solusi instan. Beli sistem berbasis machine learning, pasang dashboard analitik, lalu merasa aman. Ini ilusi berbahaya. Ketergantungan pada “kotak hitam” membuat organisasi kehilangan pemahaman terhadap keputusan keamanan. Ketika sistem gagal mendeteksi serangan adversarial, tim internal sering tidak siap melakukan intervensi. Keamanan bergantung pada vendor, bukan kapasitas internal.
Dalam jangka panjang, hal ini melemahkan ketahanan digital nasional. Industri harus menjadi mitra aktif dalam pengembangan ekosistem keamanan siber berbasis riset dan talenta lokal, bukan hanya konsumen teknologi.
Perusahaan dan Titik Lemah Manusia
Serangan berbasis AI menegaskan satu fakta lama: titik lemah terbesar bukan teknologi, melainkan manusia. AI mampu meniru gaya bicara atasan, menyusun narasi meyakinkan, dan mengeksploitasi tekanan kerja. Prosedur keamanan konvensional menjadi tidak relevan.
Pelatihan formalitas tidak cukup. Kesadaran digital harus menjadi kompetensi inti, setara literasi keuangan atau etika kerja. Investasi teknologi sebesar apa pun mudah ditembus oleh satu pesan suara palsu atau email yang tampak sah.
Pendidikan: Medan Pertarungan Jangka Panjang
Di sinilah pendidikan memegang peran strategis. Keamanan siber berbasis AI bukan hanya keterampilan teknis, tetapi disiplin lintas bidang: etika, hukum, psikologi, dan kebijakan publik. Perguruan tinggi harus mencetak pemikir dan perancang kebijakan, bukan hanya operator sistem.
Tanpa talenta yang mampu memahami AI secara kritis, Indonesia akan terus berada dalam posisi defensif, bereaksi terhadap ancaman pihak lain. Investasi serius dalam pendidikan dan riset adalah kunci kedaulatan digital jangka panjang.
Menentukan Arah di Tengah Ketidakpastian
AI telah mengubah wajah kejahatan siber, dan perubahan ini tidak dapat diputar balik. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan terdampak, tetapi sejauh mana kita siap mengelola dampaknya. Keamanan siber di era AI menuntut regulasi visioner, industri bertanggung jawab, perusahaan sadar risiko, dan pendidikan berpandangan jauh ke depan.
Tanpa itu, AI bukan sekadar inovasi, tetapi akselerator krisis: krisis kepercayaan, keamanan, dan kedaulatan digital. Sejarah menunjukkan, krisis semacam ini selalu lebih mahal diperbaiki daripada dicegah. ***







Be First to Comment